Translate
Redaksi Tabuka News | 01 April 2026Tokoh Masyarakat: Insiden Kwamki Narama Murni Kriminal, Bukan Konflik Susulan
TIMIKA, TabukaNews.com – Ketegangan menyelimuti Distrik Kwamki Narama menyusul dua aksi kekerasan fatal yang terjadi dalam waktu berdekatan pada Minggu, 29 Maret 2026.
Meski memicu spekulasi di masyarakat, tokoh masyarakat setempat menegaskan bahwa rentetan kejadian tersebut merupakan murni tindakan kriminal, bukan kelanjutan konflik antarkelompok masa lalu.
Dua insiden berdarah terjadi hanya dalam hitungan jam pada Minggu dini hari. Lokasi pertama, dugaan pembunuhan seorang pria di area pemukiman Distrik Kwamki Narama. Sedangkan, di lokasi kedua, penganiayaan maut terhadap seorang pria di Jalan WR Soepratman.
Muncul dugaan di media sosial bahwa kedua peristiwa ini saling berkaitan dan merupakan residu dari konflik saudara antara kelompok Dang dan Newegalen.
Namun, pihak keluarga kedua korban telah sepakat menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian dan mengklasifikasikannya sebagai tindak pidana murni.
Tokoh Masyarakat Kwamki Narama, Yohanis Wantik, meluruskan disinformasi yang beredar. Ia membantah tudingan bahwa pemerintah daerah gagal dan menegaskan bahwa status perdamaian adat dari konflik sebelumnya masih terjaga secara sah.
“Itu dulu kita pahami. Karena protap penyelesaian adat, penyelesaian adat adalah jelas sudah sah sesuai dengan protap penyelesaian adat. Pemerintah tidak tinggal diam, entah itu Pemerintah Provinsi, entah itu Pemerintah Kabupaten Puncak, entah itu Pemerintah Kabupaten Mimika, tidak tinggal diam,” ujar Yohanis saat dikonfirmasi via telepon, Selasa (31/3/1016) malam.
Yohanis menjelaskan bahwa rekonsiliasi masa lalu telah tuntas dengan prinsip keseimbangan korban.
“Jadi sesuai arahan dari tokoh-tokoh dan beberapa pihak, akhirnya protap penyelesaian adat atau perdamaian menuju ke perdamaian sudah dilakukan sesuai. Dan itu clear. Clear karena nyawa yang korban adalah di atas adalah lima orang, di bawah adalah lima orang,” imbuhnya.
Merespons narasi di grup percakapan daring yang menyudutkan Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemkab Puncak, dan Pemkab Mimika, Yohanis menyatakan tuduhan tersebut tidak berdasar.
“Itu keliru, dalam pernyataan itu keliru. Atau diskusi-diskusi dalam grup itu adalah keliru. Jelas pemerintah sudah lakukan sesuai dengan protap adat,” tegasnya.
Yohanis mendesak aparat kepolisian untuk bekerja ekstra cepat dalam mengungkap pelaku dan motif di balik dua kasus pembunuhan ini guna meredam keresahan warga dan menjaga stabilitas keamanan di Mimika.(Ahmad)