Targetkan Eliminasi Tbc Pada Tahun 2030, Dinkes Mimika Bentuk Tim Tp2tb
MIMIKA, TabukaNews.com — Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) tengah menyiapkan pembentukan Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB) untuk mencapai target berakhirnya TBC pada tahun 2030.
Kegiatan yang berlangsung di Hotel Horison Ultima, Kamis (17/9/2026) dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Mimika, Ananias Faot.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Mimika, Ananias Faot, mengingatkan agar pembentukan tersebut tidak berakhir sebagai formalitas birokrasi.
“Pembentukan tim harus menghasilkan kerja nyata percepatan penanggulangan TBC, bukan hanya menjadi tim administratif yang berhenti pada pembentukan dan penerbitan SK,” kata Ananias.
Menurut Ananias, TBC tidak bisa dianggap sebagai masalah yang hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan atau fasilitas pelayanan kesehatan. Penyakit tersebut berkaitan erat dengan kondisi lingkungan, sosial ekonomi, tempat tinggal, perilaku masyarakat, mobilitas penduduk hingga produktivitas.
Oleh karena itu, ia meminta penanggulangan TBC dilakukan secara lintas sektor. Pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dunia usaha, TNI-Polri, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, tokoh adat hingga media perlu dilibatkan.
“Ini bukan pekerjaan satu instansi. Kita harus kerja bersama,” ujarnya.
Ananias meminta TP2TB nantinya memiliki target yang terukur, pembagian tugas antar OPD, indikator kinerja, jadwal kerja, mekanisme pelaporan dan evaluasi. Ia tidak ingin setiap instansi bekerja sendiri-sendiri berdasarkan program sektornya.
“Jangan bekerja secara parsial atau masing-masing sesuai dengan egonya masing-masing,” ujarnya.
Ia mengatakan, karakteristik wilayah Mimika yang membuat penanggulangan TBC memerlukan pendekatan yang berbeda-beda. Penanganan di kawasan perkotaan tidak bisa disamakan dengan distrik dan kampung, termasuk wilayah pesisir maupun daerah yang akses pelayanan kesehatannya masih terbatas.
“Kelompok masyarakat dengan mobilitas tinggi juga memerlukan strategi khusus, dan menemukan kaus, jangan tunggu pasien datang,” imbuhnya.
Ananias menekankan pentingnya penemuan kasus secara aktif, termasuk pelacakan kontak dekat pasien. Pemerintah daerah harus memastikan keluarga dan orang yang memiliki kontak dekat dengan pasien mendapat perhatian dan pemeriksaan yang diperlukan.
Namun menemukan pasien bukan akhir dari pekerjaan. Pasien harus didampingi hingga menyelesaikan pengobatan.
Ia mencontohkan pengalaman seorang rekannya yang pernah berobat karena TBC, tetapi obat yang diberikan justru menumpuk di bawah tempat tidur hingga pasien tersebut meninggal.
“Bagaimana kita menangani pasien itu sampai sembuh, ini yang paling penting,” katanya.
Dikatakan, penanggulangan TBC tidak cukup dengan memberikan obat kepada pasien. Rantai penularan harus diputuskan dan pasien tidak boleh dibiarkan berhenti berobat di tengah jalan.
“Jangan hanya mengobati pasien, tapi putus rantai penularan. Pastikan tidak ada pasien yang memutuskan pengobatan,” ujarnya.
Ia juga meminta pemerintah distrik dan kampung dilibatkan dalam kerja TP2TB. Menurut dia, sebagian besar permasalahan justru berada di tengah masyarakat sehingga intervensi tidak akan maksimal jika seluruh pekerjaan ditarik ke tingkat kabupaten.
“Kita yang ada di kabupaten tidak bisa bekerja sendiri tanpa melibatkan distrik dan kampung. Perlu kolaborasi,”ucapnya.
Ananias meminta data penanganan TBC diperkuat agar pemerintah memiliki gambaran yang jelas mengenai kasus, pelaksanaan program, pencapaian, serta kendala di lapangan.
Data tersebut, selanjutnya, penting untuk menjadi dasar evaluasi sekaligus laporan akhir.
“Libatkan semua elemen supaya kita kerja keroyokan, bukan parsial,” ujarnya.
Percepatan penanggulangan TBC juga harus masuk dalam perencanaan pembangunan daerah. Program kesehatan tidak dapat berjalan sendiri, melainkan terintegrasi dengan program pembangunan pemerintah Kabupaten Mimika.
Ditambahkan, target tahun 2030 membutuhkan kerja lintas sektor yang diukur dan berlangsung sampai ke tingkat masyarakat bukan sekadar struktur tim yang tercantum dalam sebuah SK.
Penulis: Desy
Editor: Ahmad









