Sosialisasi Bersama BPIP di Smansa Mimika, Yan Mandenas Ajak Pelajar Ubah Pola Pikir Karier

Yan Mandenas berpidato di hadapan para siswa dan dewan guru SMAN 1 (SMANSA) Mimika, di aula sekolah, Sabtu (25/7/2026). (Foto: Ahmad).

Sosialisasi Bersama Bpip Di Smansa Mimika, Yan Mandenas Ajak Pelajar Ubah Pola Pikir Karier

MIMIKA, TabukaNews.com — Doktrin lama yang menempatkan status Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagai tolok ukur tunggal kesuksesan di Papua mulai ditantang. 

Anggota Komisi XIII DPR RI, Yan Permenas Mandenas, mendesak generasi muda Mimika merombak total cara memandang tradisional terkait masa depan karir agar mampu keluar dari jebakan zona nyaman dan menembus persaingan global.

Gangguan ekonomi dan dinamika pasar kerja nasional kini menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi. 

Dalam konteks pembangunan Papua, kemandirian pada sektor publik dinilai tidak lagi mampu menampung termasuk angkatan kerja muda.

Stigma dan preferensi lama itu disinggung tegas oleh Yan saat memberikan Arahan dalam Sosialisasi Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di SMAN 1 Mimika, Kota Timika, Papua Tengah, Sabtu (25/7/2026).

“Jangan pernah berpikir seperti zaman saya masih sekolah SMA, 'Saya tamat sekolah SMA, kuliah, nanti jadi PNS.' Oh, itu cara berpikir zaman dulu. Sudah, itu habis! Kita putuskan mata rantai cara berpikir seperti itu di orang tua-tua kita hari ini, cukup," kata Yan.

Bahasa Asing dan Keterampilan Ganda Jadi Kunci

​Menurut Yan, kuisitisi bahasa internasional—seperti bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, hingga Mandarin—serta penguasaan keterampilan ganda (double job) merupakan keharusan yang tak bisa ditawar. 

Tanpa keahlian mendasar ini, Sumber Daya Manusia (SDM) asal Papua akan terus tertinggal di pasar kerja global.

Ia mencontohkan keberhasilan negara tetangga seperti Filipina yang menjadi pemasok tenaga kerja kompetitif di ranah internasional karena unggul dalam kemampuan komunikasi dan keterampilan rendah.

"Paling utama nomor satu, mau kita dibuang di dunia sudut mana pun: bahasa, komunikasi, interaksi. Paling utama nomor satu," ujar politikus asal Papua tersebut.

Selain pilar bahasa, Yan menyoroti perlunya generasi muda membekali diri dengan keberanian untuk mandiri dan tidak menjadi beban sosial saat kembali ke tanah kelahiran.

Menceritakan rekam jejaknya sendiri yang merintis karir politik dari bawah hingga menjabat anggota DPR RI selama dua periode, ia mendorong anak muda Papua hadir membawa pembaharuan.

“Tunjukkan bahwa saya keluar, sekolah, berpendidikan, kerja, kembali ke daerah saya, ketemu orang tua, ketemu keluarga, ketemu orang di kampung, bukan menjadi masalah! Harus menjadi solusi, menjadi jawaban atas dinamika, kompleksitas pembangunan dan masalah kesejahteraan yang dialami oleh masyarakat kita di daerah,” tuturnya.

Mendorong Akses Internasionalisasi SDM Papua

​Mengapresiasi potensi dan kejelakan penguasaan bahasa Inggris para siswa SMAN 1 Mimika, Yan menilai Papua memiliki modal dasar modal manusia yang besar. Namun, potensi ini perlu dipercepat melalui kebijakan strategi di daerah.

Ia mendesak pemerintah daerah bersama mitra internasional untuk memperluas akses infrastruktur pendidikan, seperti laboratorium bahasa yang memadai, serta membuka lebih luas keran program beasiswa luar negeri ke negara-negara tetangga seperti Australia dan Selandia Baru. 

Langkah ini dinilai penting guna mencetak SDM Papua yang tidak sekadar ijazah-sentris, tetapi adaptif dan berdaya saing global.

(Editor: Ahmad)

Iklan