Translate
Redaksi Tabuka News | 15 April 2026Solidaritas di Ketinggian: Karyawan Freeport Rayakan HUT ke-59 Lewat Drama Musikal
TIMIKA, TabukaNews.com - Papua Tengah – Di tengah kabut tebal dan suhu dingin Tembagapura, ratusan karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI) mengubah aula olahraga menjadi panggung seni. Pada Selasa malam (7/4/2026), perusahaan tambang raksasa ini memperingati hari jadinya yang ke-59 dengan cara yang tidak biasa: sebuah drama musikal kolaboratif bertajuk “One Freeport, One Family".
Pertunjukan berdurasi dua jam ini bukan sekadar hiburan, melainkan refleksi atas dinamika operasional dan ketangguhan mental para pekerja di salah satu medan tambang tersulit di dunia.
Disutradarai oleh seniman ternama Agus Noor, pementasan ini melibatkan talenta internal yang terdiri dari karyawan hingga anak-anak sekolah di Tembagapura. Vice President Corporate Communications PTFI, Katri Krisnati, menekankan bahwa acara ini adalah pengingat akan kuatnya ikatan antarpekerja.
“Malam ini sangat istimewa sekali menyaksikan karyawan tambang Freeport tampil dalam sebuah drama musikal One Freeport One Family dalam rangka Peringatan Ulang Tahun ke-59 Freeport Indonesia,” kata Katri.
Katri menambahkan bahwa produksi ini muncul di tengah tantangan perusahaan yang tinggi serta suasana duka yang belum sepenuhnya sirna.
“Drama musikal ini lahir dari refleksi mendalam atas peristiwa yang terjadi di area tambang. Pertunjukan ini menjadi cara untuk berbagi semangat dan energi positif, sekaligus ruang refleksi bahwa di balik tantangan, tumbuh solidaritas, dan rasa persaudaraan yang semakin kuat,” jelasnya.
Berbeda dengan perayaan HUT ke-55 yang banyak melibatkan pihak luar, produksi tahun ini hampir sepenuhnya dikelola secara mandiri oleh tim internal Freeport—mulai dari tata panggung, sistem suara, hingga multimedia.
Proses persiapan memakan waktu dua pekan dengan jadwal latihan yang sangat fleksibel. Para pemain berlatih intensif di sela-sela jam kerja dan waktu sekolah.
Agus Noor memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi tim di ketinggian hampir 2.000 meter di atas permukaan laut tersebut.
“Tahun ini terasa berbeda dan luar biasa. Karena seluruh pemain dan tim di balik panggungnya merupakan karyawan serta keluarga besar Freeport, dengan kondisi geografis Tembagapura di ketinggian hampir 2000-meter dengan cuaca dingin, hujan, hingga panas terik menjadi tantangan tersendir, namun semua dapat diatasi berkat antusiasme dan kebersamaan,” ungkap Agus.
Alur drama musikal ini mengangkat realita keseharian di wilayah operasional PTFI, mulai dari harmoni keberagaman suku dan agama, hingga ketegangan teknis di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) dan insiden keamanan.
Bagi para pemeran, naskah ini terasa personal. Sandi Claudio dari Underground Mine Division merasa bangga karena cerita tersebut mencerminkan kehidupan nyatanya.
“Yang membuat spesial, drama ini menceritakan tentang kehidupan di tambang bawah tanah. Saya menemukan cinta di tempat ini, sama seperti cerita yang ditampilkan,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Dora dari Mining Safety Division. Ia mengaku proses latihan ini membantunya membangun jejaring dan chemistry dengan rekan-rekan dari divisi lain yang sebelumnya jarang ia temui. Meski demikian, ia mengakui manajemen waktu menjadi ujian tersendiri.
“Tantangan terbesar tentu saja adalah pekerjaan, karena latihan dilakukan di sela-sela jam kerja. Kami harus pandai mencuri waktu untuk menghafal naskah drama dan mempersiapkan diri,” kata Dora.
Pertunjukan ditutup dengan suasana haru saat seluruh pemain berdiri memberikan penghormatan terakhir di bawah lampu panggung yang meredup. Tepuk tangan meriah dari penonton menjadi simbol apresiasi atas keberanian karyawan untuk tetap bersatu di tengah berbagai tekanan industri.
Bagi Agus Noor, kolaborasi ini membuktikan bahwa seni mampu memberikan keseimbangan di lingkungan industri yang keras. “Seni telah memberi sentuhan humanis di tengah kesibukan kota tambang,” pungkasnya. (Ahmad)