Selimuti Timika, Kabut Asap Karhutla Papua Selatan Diprediksi Bertahan Hingga Oktober
MIMIKA, TabukaNews.com — Kabut asap tebal menyelimuti wilayah Kota Timika dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika mengonfirmasi bahwa fenomena ini dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) skala besar yang tengah melanda wilayah Provinsi Papua Selatan, khususnya Kabupaten Merauke.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika, Stevan, mengungkapkan bahwa berdasarkan analisis data satelit, terdeteksi ribuan titik panas (hotspot) yang tersebar di wilayah Papua Selatan.
"Kalau kita lihat peta sebaran khusus Papua Selatan, itu titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang mencapai 3.000, dan tingkat kepercayaan tinggi mencapai 200 titik panas," kata Stevan saat ditemui di Timika.
Menurut Stevan, asap dari karhutla di Merauke terbawa oleh pola angin yang bertiup dari arah timur hingga tenggara menuju pesisir selatan Papua.
Kondisi ini membuat dampak kabut asap meluas dan tidak hanya melanda Mimika, tetapi juga Kabupaten Asmat (Agats) hingga Kabupaten Kaimana di Papua Barat.
Dampak paling krusial dari paparan kabut asap ini adalah penurunan jarak pandang (visibility) yang sempat merosot hingga di bawah 2.000 meter (2 kilometer), khususnya pada pagi hari. Situasi ini mengancam keselamatan dan kelancaran aktivitas penerbangan di Bandara Mozes Kilangin Timika.
"Jarak pandang di bawah 2 km, sehingga untuk pesawat-pesawat berbadan besar mungkin terjadi delay atau ditunda penerbangannya. Atau dialihkan sementara ke bandara lain sambil menunggu perkembangan jarak pandang," ujar Stevan, saat ditemui, Senin (28/9/2026).
Ia menambahkan, batas jarak aman untuk aktivitas lepas landas (take-off) maupun pendaratan (landing) idealnya berada pada kisaran 2.000 meter.
Kendati demikian, BMKG sebatas menyuplai data pengamatan cuaca dan visibility terkini secara berkala sebagai acuan bagi pihak AirNav/ATC (Air Traffic Control) dalam mengambil keputusan penerbangan.
Potensi gangguan udara ini diproyeksikan masih akan berlangsung cukup lama. BMKG memperkirakan selimut kabut asap baru akan mereda seiring pergeseran pola angin monsoon dari timuran ke baratan yang diprediksi terjadi pada akhir Oktober hingga November.
"Selama kebakaran hutan masih terjadi di Merauke dan arah anginnya masih bertiup dari timuran, mungkin masih akan terjadi hingga Oktober," ucapnya.
Selain dipicu karhutla, kondisi kekeringan di Papua Selatan juga diperparah oleh fenomena El Nino yang berkepanjangan, yang diperkirakan berpotensi memicu krisis air bersih hingga tahun depan.
BMKG mengimbau warga Mimika untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan atau mengenakan masker saat beraktivitas untuk mengantisipasi gangguan pernapasan, terutama di wilayah pesisir seperti Poumako yang terpantau memiliki konsentrasi asap lebih pekat akibat vegetasi yang rapat.
Sementara itu, untuk prakiraan gelombang laut, BMKG mencatat ketinggian gelombang di perairan luar (Laut Arafuru) berkisar antara 1,25 hingga 2,5 meter, sedangkan di area pelabuhan relatif tenang pada kisaran 0,5 meter.
Editor: Ahmad









