Polisi: Mobil Anggota di Kwamki Narama Dibakar Karena Salah Paham, Disangka Kendaraan Kelompok Rival

Kendaraan yang tengah dilahap api setelah dibakar oleh warga di Distrik Kwamki Narama, Mimika, Papua Tengah, Jumat, 30 Oktober malam. (Foto: Dok. Warga).

Polisi: Mobil Anggota Di Kwamki Narama Dibakar Karena Salah Paham, Disangka Kendaraan Kelompok Rival

​MIMIKA, TabukaNews.com — Jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Kwamki Narama memastikan bahwa insiden pembakaran satu unit kendaraan roda empat di depan pos pengamanan wilayah setempat pada Jumat malam (30/10/2026) murni dipicu oleh kesalahpahaman. 

Massa yang bertikai mencurigai mobil tersebut sebagai sarana transportasi milik kelompok lawan di tengah dinamika konflik antarkelompok yang masih berlangsung di wilayah hukum Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.

​Kapolsek Kwamki Narama, Iptu Yusak Sawaki, memberikan penjelasan komprehensif mengenai insiden yang melibatkan kendaraan milik seorang anggota Babinkamtibmas (Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) tersebut. 

Peristiwa ini bermula ketika kendaraan roda empat yang dikemudikan oleh dua orang anggota kepolisian bergerak keluar dari Markas Komando (Mako) Yonif B menuju ke arah SP3 dengan agenda utama untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM). 

Setelah proses pengisian BBM di stasiun pengisian bahan bakar rampung, kendaraan tersebut melanjutkan mobilitasnya memasuki kawasan Kwamki Narama menuju arah Timika.

​"Jadi, kendaraan ini dari pertama dia dari keluar dari Mako Yon B menuju tujuannya ke Timika, ke kota... setelah mengisi BBM, terus kendaraan tersebut dengan kedua anggota ini menuju ke arah Timika. Namun, setelah tiba di SP3 di (Kali Wania,red), depan Waanal, mobil tersebut atau dua anggota tersebut ini melewati Pos Kali Wania," ujar Iptu Yusak saat dikonfirmasi media ini melalui sambungan telepon pada Sabtu (31/10/2026).

​Berdasarkan kronologi kepolisian, sekitar pukul 18.20 WIT, kendaraan pribadi tersebut melintas lurus masuk ke arah Kubu Newegalen. 

Pada saat yang bersamaan, massa dari kubu tersebut tengah berkumpul dalam rangka mempersiapkan rangkaian kegiatan tradisional berupa acara bakar batu. 

Selepas melintasi area perkumpulan tersebut, pengemudi melanjutkan perjalanan dengan melewati kawasan Kubu Dang.

Kronologi Penghadangan dan Pengejaran Massa

​Melintasnya kendaraan pribadi dari kubu rival di tengah ketegangan teritorial secara langsung memicu kecurigaan mendalam dari warga setempat di Kubu Dang. 

Warga mengasumsikan bahwa mobil yang melintas tanpa pengawalan tersebut merupakan aset atau sarana mobilitas milik kelompok lawan.

​"Nah, itu yang membuat kecurigaan itu, 'Oh, itu mobil musuh.' Mereka masyarakat dari Kubu Dang ini menyerang mobil tersebut. Menyerang mobil tersebut dengan melepas panah dan melempar dengan batu, tapi kendaraan tersebut berhasil melaju keluar ke arah pos batu sekat pos pintu masuk Kwamki Narama," lanjut Iptu Yusak memaparkan eskalasi kejadian di lapangan.

​Massa dari Kubu Dang yang diperkirakan berjumlah lebih dari 50 orang kemudian melakukan pengejaran secara bersama-sama terhadap kendaraan tersebut hingga mencapai area depan pos penjagaan aparat keamanan. 

Setibanya di titik pos sekat, massa sempat berupaya menanyakan kepemilikan serta peruntukan kendaraan tersebut. 

Kendati demikian, respons yang dinilai lambat di tengah situasi psikologis massa yang tengah memuncak membuat kerumunan bertindak spontan dengan membakar habis mobil tersebut di depan pos penjagaan.

​Iptu Yusak secara tegas meluruskan narasi yang berkembang dan menekankan bahwa insiden pembakaran tersebut sama sekali bukan merupakan bentuk penyerangan terarah terhadap institusi kepolisian maupun fasilitas pos penjagaan aparat.

​"Jadi bukan, bukan mereka menyerang pos, tidak. Jadi masyarakat bukan menyerang pos, tapi mereka mencurigai mobil yang keluar dari Kubu Newegalen menuju ke lokasi Kubu Dang itu, itu yang mereka curigai mobil musuh," tegasnya memperjelas motif di balik tindakan massa.

​Lebih lanjut, Iptu Yusak memastikan bahwa kedua anggota kepolisian yang berada di dalam kendaraan nahas tersebut berhasil menyelamatkan diri dari amukan massa dengan cara mengamankan diri secara cepat ke dalam pos sekat terdekat tanpa mengalami luka serius.

​Situasi Terkendali dan Upaya Damai Berkelanjutan

​Menanggapi eskalasi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) ini, jajaran Polres Mimika bersama Polsek Kwamki Narama langsung bergerak taktis melakukan langkah-langkah penebalan pengamanan guna mengisolasi potensi konflik susulan. Hingga laporan ini diturunkan, situasi di kawasan Kwamki Lama dilaporkan berada dalam kondisi yang aman, terkendali, namun relatif sepi dari aktivitas warga akibat pengamanan ketat.

​"Untuk situasi di Kwamki Lama sementara aman dan terkendali, sepi. Karena sementara dari Polres sedang melakukan giat patroli dan sweeping di [di] apa lokasi perang di dalam Kwamki sini," kata Iptu Yusak menerangkan langkah preemtif dan preventif kepolisian.

​Konflik antarkelompok yang mendasari ketegangan di wilayah ini tercatat telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang. 

Berdasarkan data historis dan catatan operasional kepolisian, perang tradisional antar-subkelompok di wilayah Kwamki Narama ini telah memasuki bulan ke-13, atau genap satu tahun satu bulan terhitung sejak pecah pertama kali pada 14 Oktober tahun sebelumnya.

​Dampak dari konflik berkepanjangan ini telah menimbulkan kerugian materiel yang masif serta korban jiwa dari kedua belah pihak yang berkonflik. 

Berdasarkan rekapitulasi data kepolisian, tercatat dari Kubu Dang terdapat sebanyak 14 korban meninggal dunia (MD), sementara dari Kubu Newegalen tercatat sebanyak 12 korban jiwa gugur akibat rangkaian bentrokan tersebut.

​Sebagai langkah penanganan komprehensif dan jangka panjang, pihak kepolisian berkomitmen untuk terus menggencarkan kegiatan patroli rutin berskala besar serta razia atau sweeping senjata tajam di area-area rawan konflik. 

Langkah ini diambil tidak hanya untuk meredam eskalasi kekerasan fisik, tetapi juga dibarengi dengan pembangunan komunikasi dan koordinasi intensif bersama para tokoh adat, tokoh masyarakat, serta pemuda setempat guna mendorong tercapainya rekonsiliasi dan perdamaian permanen di tanah Mimika.

​Editor: Ahmad

Iklan