Mimika Masih Pimpin Kasus Malaria di Papua Tengah, Pemuda Muslim Dorong Edukasi Pelajar dan Penghuni Kos

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Pemuda Muslimin Indonesia (PMI) Papua Tengah, Rahadian. (Foto: Istimewa).

Mimika Masih Pimpin Kasus Malaria Di Papua Tengah, Pemuda Muslim Dorong Edukasi Pelajar Dan Penghuni Kos

MIMIKA, TabukaNews.com — Kasus malaria di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, masih menempati urutan tertinggi di tingkat provinsi meskipun mencatatkan penurunan dibanding tahun sebelumnya. Kondisi ini memicu desakan agar penanganan penyakit endemis tersebut tidak lagi hanya berfokus pada pengobatan pasien positif, tetapi difokuskan pada pencegahan berbasis edukasi masyarakat.

Berdasarkan data pembaruan per 22 September 2026, tercatat 117.910 kasus positif malaria di Mimika. Meski angka ini menurun dari periode 2025 yang mencapai 190.568 kasus, wilayah Mimika tetap memegang predikat sebagai kabupaten dengan beban kasus malaria tertinggi di Papua Tengah.

Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muslimin Indonesia (PW PMI) Papua Tengah, Rahadian, menilai penanganan malaria oleh pemerintah daerah dan tenaga kesehatan masih belum seimbang antara kuratif dan preventif.

“Penanganan malaria jangan hanya terfokus pada orang yang sudah mengalami gejala atau sudah positif, langkah pencegahan juga harus dimaksimalkan,” kata Rahadian pada Sabtu (03/10/2026).

Pelajar dan Komunitas Kos Jadi Kunci

Menurut Rahadian, program edukasi pencegahan akan lebih efektif jika menyasar generasi muda dan kelompok masyarakat dengan mobilitas tinggi, seperti para pekerja pendatang yang tinggal di kawasan rumah indekos.

Pelajar, kata dia, berpotensi menjadi agen perubahan langsung di unit keluarga dan lingkungan terkecil.

“Kaum pelajar juga harus jadi target edukasi, karena mereka ini kan bisa jadi agen di rumah dan lingkungannya untuk ajak keluarga dan tetangga ciptakan lingkungan rumah yang sehat,” ujarnya.

Ia menyoroti karakteristik Kota Timika sebagai pusat ekonomi yang menarik banyak pendatang. Tingginya angka hunian kos-kosan dinilai memerlukan intervensi khusus melalui pelibatan pemilik hunian dan penyewa.

“Di Timika kan banyak orang yang datang fokusnya cari uang, banyak yang ngekos, mereka ini kan juga harus diajak untuk sama-sama jaga lingkungan. Setiap pemilik kos juga harus diajak untuk edukasi penyewa kosnya,” tutur Rahadian.

Kolaborasi dan Kepatuhan Obat

Upaya menuju eliminasi malaria, tegas Rahadian, membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan sekolah, perguruan tinggi, hingga organisasi kepemudaan (OKP), ketimbang menyerahkan beban sepenuhnya kepada Dinas Kesehatan.

“Dinas kesehatan harus libatkan setiap elemen untuk sama-sama tuntaskan kasus malaria di Mimika, ajak anak sekolah, mahasiswa atau organisasi kepemudaan yang ada di Timika. Karena kasus malaria ini juga jadi tanggung jawab bersama,” katanya.

Selain kebersihan lingkungan dan pemahaman perilaku nyamuk, kepatuhan pasien dalam menyelesaikan seluruh dosis pengobatan menjadi faktor krusial guna mencegah resistensi obat dan penularan berulang.

“Kita ini tinggal di wilayah yang jadi habitatnya nyamuk, jadi kita yang harus pintar-pintar jaga lingkungan. Saya pikir masyarakat juga harus diedukasi soal perilaku nyamuk supaya masyarakat juga bisa antisipasi,” ujarnya.

“Mobilitas masyarakat di Timika bisa dibilang cukup padat, khususnya di tengah kota, makanya kepatuhan minum obat itu jadi salah satu kunci utama yang harus tertanam dalam mindset masyarakat itu sendiri,” ia menambahkan.

Menutup pernyataannya, Rahadian menekankan pentingnya menjaga kesehatan fisik bagi produktivitas anak muda Papua Tengah.

"Kami selaku organisasi kepemudaan, mengajak seluruh masyarakat khususnya anak-anak muda dan pelajar yang ada di Mimika untuk mari kita sama-sama jaga lingkungan dan rumah yang bersih. Karena kalau kita sehat, kita juga akan jadi lebih produktif," pungkasnya.

Editor: Ahmad

Iklan