Menyemai Asa Kopi Gunung di Kota Industri

Alexander Giban saat ditemui pelataran Graha Eme Neme Yauware, sedang meyani customer di stand kopi miliknya pada Festival Bazar dan UMKM 2026. (Foto: Ahmad).

Menyemai Asa Kopi Gunung Di Kota Industri

MIMIKA, TabukaNews.com — Di balik kepulan asap pemanggangan biji kopi Arabika Wamena, Alexander Giban merajik mimpi tentang kemandirian anak-anak muda Papua. 

Pemuda asal Wamena ini nekat keluar dari zona nyaman untuk merintis bisnis kopi kreatif di Timika, Kabupaten Mimika, lewat bendera AO-Nare14 Coffee & Roastery.

​Keberanian Alexander mengambil risiko di kota industri ini bukan tanpa alasan. Berbekal latar belakang pendidikan Teknik Elektro di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), ia melangkah pasti mematahkan stigma: bahwa pemuda Orang Asli Papua (OAP) mampu mengelola rantai bisnis dari hulu hingga hilir secara mandiri.

​Perjalanan spiritual dan profesional Alexander di dunia kopi berawal dari hal sederhana. 

Sebagai penikmat kopi yang rutin bekerja sebagai engineer elektro di Mimika, ia kerap membawa pasokan biji kopi Arabika hasil panen petani di kampung halamannya di Wamena untuk diseduh di kantor.

​Respons hangat dari para atasan dan rekan kerjanya menjadi pemicu awal. "Atasan bilang, 'Ah Adi, usahakan saja, boleh.' Nah itu membuat saya semangat," tutur Alexander saat ditemui dalam ajang pameran UMKM di Mimika, Kamis (8/10/2026).

​Awalnya, Alexander memesan biji kopi (coffee beans) dari orang tuanya di Wamena. Biji kopi mentah itu lantas diserahkannya ke sangrai (roaster) lokal, sebelum dikemas mandiri dengan alat press sederhana. 

Dari penjualan kemasan di lingkungan kantor, Alexander menyisihkan tiap rupiah pendapatan untuk memperkuat modal usaha.

​Tekad bulat dan kontrol keuangan yang disiplin berbuah manis. Dari hasil tabungannya, Alexander mampu membeli mesin sangrai (roasting machine) sendiri. 

Tak berhenti di situ, ia memperluas usahanya dengan membuka jasa penyangraian biji kopi untuk kafe-kafe di Timika, hingga akhirnya berhasil membeli mesin espresso dan grinder untuk membuka kedai kopi mini pada 10 Agustus 2026.

​Nama "AO-Nare" yang disematkan pada merek usahanya menyimpan makna mendalam. 

Dalam bahasa lokal, AO-Nare bermakna "Kau adalah temanku." Sebuah simbol kehangatan dan persaudaraan yang ingin ia hadirkan di setiap cangkir kopi.

​Alexander memandang Timika sebagai pasar yang sangat potensial. Sebagai daerah pusat industri yang dihuni banyak pendatang, tingkat konsumsi kopi di Mimika terbilang tinggi. 

Bagi Alexander, pemuda asli Papua yang memilik akses langsung ke tanah dan petani kopi pegunungan memiliki nilai tawar serta keunggulan otentisitas yang tinggi.

​"Kita orang asli yang punya tanah, yang punya kebun. Kalau kita sendiri yang jelaskan dari mana kopi itu berasal, nilainya sangat beda. Itu otentik dan natural," tegasnya.

​Bagi Alexander, tantangan terbesar dalam dunia wirausaha adalah konsistensi dan manajemen keuangan. 

Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas rasa agar konsumen terus kembali, serta keberanian mengambil risiko tanpa terjebak pada gengsi.

​Lebih dari sekadar mengejar keuntungan finansial, Alexander mengusung misi sosial melalui AO-Nare14 Coffee & Roastery. 

Ia secara khusus memilih untuk tidak mempekerjakan barista profesional, melainkan merangkul anak-anak muda Papua yang masih menganggur untuk dilatih dari nol hingga menguasai seni menyeduh kopi.

​"Saya tidak cari orang yang sudah pro. Ilmu yang saya punya, saya bagikan ke teman-teman anak Papua yang tidak punya pekerjaan. Yang penting bukan nilainya dulu, tapi pengalaman dan ilmunya agar kelak mereka bisa membuka usaha sendiri," ujar Alexander.

​Ke depan, Alexander menargetkan perluasan kedai ke lokasi yang lebih strategis di tepi jalan utama Kota Timika. 

Ia optimistis, lewat ajang festival UMKM dan penjualan langsung, kedainya tak hanya memperkenalkan kekayaan cita rasa kopi Papua ke kancah nasional dan internasional, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan generasi muda OAP untuk berani berwirausaha.

Editor: Ahmad

Iklan