Mengintip Dapur Teknologi dan Diplomasi Sosial PTFI di Kampus UNCEN

Foto bersama PTFI dan Mahasiswa UNCEN usai kegiatan program Eksekutif Mengajar PT Freeport Indonesia (PTFI). (Foto: Istimewa).

Mengintip Dapur Teknologi Dan Diplomasi Sosial Ptfi Di Kampus Uncen

JAYAPURA, TabukaNews.com — Sebanyak 200 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih (UNCEN) memenuhi Auditorium Gedung Sains dan Kemitraan PTFI-UNCEN di Jayapura, Papua, pada Selasa, 15 September 2026. 

Mereka antusias mengikuti program Eksekutif Mengajar PT Freeport Indonesia (PTFI) yang memasuki penyelenggaraan kedua kalinya. 

Kehadiran jajaran manajemen perusahaan tambang raksasa ini bertujuan membekali mahasiswa dengan wawasan langsung mengenai teknologi pertambangan modern, pengelolaan risiko, hingga diplomasi sosial di tanah Papua.  

​Dalam keterangan resmi yang diterima media ini, Kamis (15/10/2026), Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNCEN, Dr. Septinus Saa, dalam pidato pembukaannya menilai program ini sebagai momentum krusial yang tidak bisa dijumpai di ruang kelas biasa. 

"Saya berharap mahasiswa Fakultas Teknik dapat memanfaatkan momentum belajar langsung dengan praktisi eksekutif PTFI ini sebaik-baiknya sebagai bekal berharga sebelum memasuki dunia kerja," ujarnya.  

​Mengubah Paradigma Pemeliharaan Lewat Teknologi

​Dalam sesi pemaparan, Senior Vice President Operations Maintenance PTFI, Ayep Dirmawan, membedah bagaimana transformasi teknologi mengubah wajah industri pertambangan bawah tanah yang kompleks. 

Menurutnya, pendekatan pemeliharaan (maintenance) saat ini tidak lagi sekadar memperbaiki perangkat yang rusak, melainkan bergeser ke arah pencegahan dini berbasis data.  

​Pemanfaatan analitik data serta pendekatan preventive dan predictive maintenance memungkinkan potensi gangguan diidentifikasi lebih awal sehingga pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan tepat. 

Kendati demikian, Ayep mengingatkan bahwa instrumen canggih tetap memerlukan sentuhan manusia sebagai pengendali utama.  

​"Tantangannya bukan hanya bagaimana memperbaiki peralatan yang rusak, tetapi bagaimana kita mampu memprediksi risiko sebelum gangguan terjadi. Teknologi membantu pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan tepat, namun manusia yang mengelolanya tetap menjadi faktor terpenting," kata Ayep.  

​Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberhasilan operasi tambang bawah tanah menuntut keseimbangan kokoh antara aspek teknis dan non-teknis, di mana keandalan pemeliharaan adalah kunci keselamatan serta efisiensi.  

​Diplomasi Sosial dan Pentingnya Menjaga Kepercayaan

​Selain aspek teknis, program ini juga memperluas cakrawala mahasiswa pada dimensi sosial dan hubungan pemangku kepentingan. 

Vice President Community Relations PTFI, Engel Enoch, memaparkan bahwa esensi pengelolaan tambang di wilayah dengan keberagaman sosial dan budaya tinggi seperti Papua memerlukan kemampuan mendengar dan membangun ruang dialog.  

​Bagi PTFI, membangun ikatan erat dan trust (kepercayaan) dengan masyarakat sekitar merupakan fondasi mutlak untuk mempertahankan License to Operate sekaligus menjamin keberlanjutan perusahaan.  

​"Diplomasi bukan semata kemampuan berbicara atau bernegosiasi. Ketika kepercayaan terbangun, dialog dapat tumbuh, perbedaan dapat dikelola, dan kolaborasi mempunyai ruang untuk berkembang," ujar Engel.  

​Pendekatan komprehensif ini mendapat sambutan hangat dari kalangan mahasiswa. Isabella Waicang, mahasiswa Jurusan Teknik Pertambangan UNCEN, mengaku mendapat sudut pandang baru yang menjembatani teori akademik dengan realitas industri.  

​"Yang paling menarik, kami bisa melihat langsung bagaimana teori di kampus dipakai untuk menjawab tantangan nyata di industri. Tidak hanya belajar tentang pekerjaan di tambang, tetapi juga tentang cara berpikir dan kompetensi yang dibutuhkan untuk masuk ke dunia profesional," tutur Isabella.  

​Program Eksekutif Mengajar sendiri sebelumnya telah sukses diselenggarakan untuk pertama kalinya di kampus UNCEN pada 29 April 2026 dengan menghadirkan narasumber dari Divisi Keselamatan Pertambangan dan Komunikasi Perusahaan. 

Melalui konsistensi program ini, PTFI—yang merupakan afiliasi dari Freeport-McMoRan Inc. (FCX) dan MIND ID—berkomitmen memperkuat sinergi nyata bagi pengembangan sumber daya manusia di Papua.

Editor: Ahmad

Iklan