Menambal Celah Deteksi Stunting di Mimika

Ket. Foto: Suasana kegiatan yang berlangsung di ruang pertemuan Hotel Grand Tembaga Timika, Rabu (15/7/2026). (Foto: Istimewa)

Menambal Celah Deteksi Stunting Di Mimika

​MIMIKA, TabukaNews.com — Di atas kertas, prevalensi stunting di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, tampaknya tidak berpengaruh. Merujuk data rutin Dinas Kesehatan setempat, angka kasusnya berada di kisaran 9,7 persen. 

Angka satu digit ini sepintas memberi kesan bahwa masalah gangguan tumbuh kembang anak di wilayah ini berada di bawah ambang batas kritis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 20 persen.

Namun, persentase kecil tersebut menyimpan waktu lahir. Di balik angka 9,7 persen itu, ada kenyataan absolut yang mencemaskan: lebih dari 2.000 balita di Mimika kini tengah didera stunting.

“Jumlah balita di Mimika itu sekitar 32.000 jiwa,” kata Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Hasmawati, saat ditemui di sela-sela Pelatihan Tatalaksana Stunting di Hotel Grand Tembaga, Timika, Rabu, siang. 

“Jika dihitung secara absolut dari 9,7 persen itu, berarti ada 2.000 lebih balita kita yang mengalami stunting. Angka absolut ini sangat tinggi dan membutuhkan penanganan yang serius,” tambahnya.

Guna memotong mata rantai masalah gizi kronis ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menggelar pelatihan tatalaksana stunting yang dikhususkan bagi tim stunting dari 26 Puskesmas di seluruh Mimika. 

Berlangsung selama empat hari hingga Sabtu, 18 Juli 2026, pelatihan ini dibiayai oleh APBD melalui Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Dinas Kesehatan.

Untuk memastikan standar penanganan medis yang mumpuni, dinkes mendatangkan narasumber dan Master of Trainer (MOT) langsung dari Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita, Jakarta. 

Pelatihan ini diikuti oleh formasi lengkap garda terdepan kesehatan: dokter, nutrisionis (petugas gizi), serta perawat atau bidan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). 

Selain puskesmas, tiga rumah sakit rujukan daerah—RSUD Mimika, Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), dan Rumah Sakit Banti—juga ikut dilibatkan.

Ilusi Balita Sehat

​Salah satu tantangan terbesar penanganan stunting di Mimika adalah miskonsepsi di tengah masyarakat. Banyak orang tua yang abai karena secara kasatmata anak-anak mereka terlihat lincah dan bugar.

“Stunting itu sebenarnya bisa membuat anak terlihat sehat-sehat saja, bahkan ada yang gemuk,” ujar Hasmawati. 

Namun di balik penampilan fisik itu, ada riwayat masalah gizi berkepanjangan yang memicu tidak sesuainya tinggi badan dibandingkan umur.

Dampaknya baru akan terasa di kemudian hari, terutama saat anak mulai memasuki usia sekolah. Penurunan kemampuan kognitif dan tingkat kecerdasan (IQ) menjadi ancaman permanen jika tatalaksana penanganan terlambat dilakukan.

Kementerian Kesehatan RI menetapkan indikator tinggi badan menurut umur (TB/U) sebagai acuan pengukuran stunting. 

Namun, dinkes menekankan bahwa akar permasalahan jauh lebih kompleks, membentang dari sebelum masa kehamilan terjadi.

Mata rantai gizi buruk ini sering terjadi sejak fase remaja putri yang menderita anemia atau Kekurangan Energi Kronis (KEK). 

Kondisi ini berlanjut saat mereka hamil dalam keadaan kurang gizi, yang kemudian diperparah oleh tingginya prevalensi penyakit infeksi endemis di Papua, seperti malaria.

“Jika bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), itu adalah 'tiket masuk' utama menuju stunting,” tegas Hasmawati. 

Oleh karena itu, dinkes mendorong intervensi komprehensif yang tidak hanya fokus pada balita, tetapi sejak masa remaja putri guna memastikan calon ibu siap hamil dalam kondisi sehat.

Kesenjangan Kota dan Pesisir

​Peta penyebaran kasus di Mimika menunjukkan karakteristik wilayah yang kontras. Di wilayah perkotaan seperti Distrik Wania dan Mimika Baru, jumlah penemuan kasus secara absolut sangat tinggi akibat padatnya populasi.

​Puskesmas Wania, misalnya, mencatat angka penemuan kasus yang menonjol. Namun, tingginya angka ini justru dipicu oleh keaktifan petugas medis di lapangan yang gencar menyisir pemukiman warga. 

Sebaliknya, di wilayah pesisir atau pegunungan, prevalensi stunting secara persentase bisa melonjak hingga 30 persen, meskipun secara absolut jumlah balita yang terdampak hanya berkisar puluhan jiwa.

Kondisi geografis yang timpang ini menuntut strategi intervensi yang berbeda. Di wilayah Pesisir dan Pegunungan, fokus intervensi diarahkan pada mengatasi hambatan aksesibilitas dan jarak geografis yang menyulitkan distribusi layanan kesehatan.

Sebaliknya, di wilayah perkotaan, fokus ditekankan pada intensitas pendampingan massal serta Pemberian Makanan Tambahan (PMT) secara rutin bagi balita yang terdeteksi mengalami masalah gizi.

Langkah antisipasi kini digeser ke hulu. Petugas kesehatan di tingkat tapak diminta tidak pasif menunggu hingga seorang anak divonis stunting. 

Deteksi dini wajib dilakukan agar grafik berat badan balita tidak menunjukkan kenaikan dalam dua kali penimbangan berturut-turut.

​Melalui pembekalan klinis dari RSAB Harapan Kita ini, tim medis di 26 Puskesmas diharapkan mampu menegakkan diagnosis tatalaksana gizi buruk secara presisi. 

Menyelamatkan 2.000 lebih balita Mimika dari ancaman kehilangan masa depan intelektual kini menjadi perlombaan dengan waktu. (Ahmad)

Iklan