Translate
Redaksi Tabuka News | 25 March 2026Menaklukkan Langit Nemangkawi: Kisah Venus Beanal, Pemuda Amungme yang Menolak Jadi Penonton
TIMIKA, TabukaNews.com – Di bawah bayang-bayang puncak berselimut salju abadi yang mereka sebut Nemangkawi, Suku Amungme telah hidup selama berabad-abad. Bagi Venus Beanal, gunung itu bukan sekadar pemandangan dari jendela rumah. Namun, menaklukkan puncak setinggi 4.884 mdpl itu adalah panggung pembuktian harga diri.
Selasa malam (24/3/2026), dengan binar mata yang masih menyisakan sisa kebanggaan, Venus berbagi kisah perjalanannya memijakkan kaki di Puncak Cartenzs.
Kali ini, ia datang bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai guide (pemandu) lokal yang mengantar pendaki mancanegara menuju titik tertinggi di Indonesia.
Meski lahir dan besar di kaki gunung yang masuk dalam daftar Seven Summits dunia tersebut, Venus mengakui bahwa mendaki secara teknis adalah dunia baru baginya.
"Jujur, awalnya saya kurang tahu soal pendakian teknis. Tapi saya punya prinsip: kenapa orang lain bisa, saya tidak bisa? Saya putra daerah di sini, saya harus bisa juga," ujar Venus dengan nada mantap.
Langkah pertamanya dimulai saat ia bergabung dalam ekspedisi yang dikawal oleh PT Tropis Cartenz Jaya.
Di bawah bimbingan pemandu senior, Venus memikul tanggung jawab besar, Ia memastikan keselamatan pendaki asing hingga ke puncak dan kembali dengan selamat.
Bagi Venus, tantangan terbesarnya bukanlah oksigen yang menipis atau suhu yang menusuk tulang, melainkan menaklukkan keraguan dalam diri.
"Kami selama ini cuma lihat saja, tidak ada terlibat langsung. Tapi saat sampai di atas, rasanya luar biasa. Kami bangga sekali," tambahnya.
Keberhasilan Venus tidak lahir di ruang hampa. Ada semangat kolektif dari pemuda asli Amungme untuk merebut kembali peran mereka dalam industri pariwisata pegunungan.
Betho Beanal, pendiri Treking Beanal Mountain Nemangkawi Ningok, menegaskan bahwa keterlibatan pemuda lokal adalah soal kedaulatan ekonomi dan harga diri.
"Selama ini orang luar yang banyak terlibat di sini. Tapi sekarang, kami anak asli daerah sudah mulai bangkit. Kami tidak mau lagi hanya menjadi penonton di tanah sendiri," tegas Betho.
Melalui wadah seperti Asosiasi Amungme Mountainering Papua (AAMP), Betho menyebutkan bahwa pemuda seperti Venus kini dibekali standar internasional—mulai dari teknik pendakian, prosedur keselamatan (safety), hingga etika pelayanan tamu.
Perlu diketahui, keberhasilan para generasi emas di bawah Puncak Gunung Nemangkawi ini tidak terlepas dari peran sentral dan dukungan yang mengalir deras dari operator PT Tropis Cartenzs Jaya yang menjadi kunci dalam mengorbitkan SDM Amungme agar memiliki daya saing global.
Bagi Betho dan rekan-rekannya, setiap langkah di jalur pendakian adalah pesan bagi generasi muda Mimika lainnya. Ia bermimpi suatu saat nanti, seluruh rantai pemanduan di Cartenzs dikelola secara profesional oleh putra daerah.
"Mari teman-teman yang belum terlibat, bergabunglah. Kita harus tahu cara pendakiannya bagaimana agar bisa menjadi tuan di atas tanah sendiri. Kita harus bisa memimpin, membawa tamu, dan mengajar orang lain," ajaknya.
Namun, semangat saja tidak cukup. Mereka juga mengetuk pintu pemangku kebijakan agar memberikan dukungan nyata berupa pelatihan formal dan sertifikasi yang diakui secara legal.
Dengan sertifikasi di tangan, langkah mereka sebagai pemandu profesional akan semakin kokoh.
Kisah Venus Beanal adalah pengingat: bahwa puncak tertinggi Indonesia itu memang dingin dan terjal, namun ia akan selalu menyambut hangat anak-anaknya yang pulang untuk menjaga dan mengelolanya dengan martabat.(Ahmad)