Lupakan Jalan Kekerasan, Empat Anggota Opm Puncak Jaya Serahkan Senjata
MIMIKA, TabukaNews.com — Empat anggota kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) memutuskan keluar dari rimba pertempuran dan melepaskan senjata api mereka.
Langkah untuk kembali ke pangkuan masyarakat tersebut ditandai dalam Upacara Reintegrasi Nasional yang digelar di halaman Markas Kodim 1714/Puncak Jaya, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, Sabtu, 26 September 2026.
Keempat individu tersebut yakni Bongkar Tabuni dan Lipar Tabuni yang berasal dari OPM Kodap X/Tolikara, serta Bejo Tabuni dan Kopitua Tabuni dari OPM Kodap XXVIII/Yambi.
Kopitua Tabuni merupakan figur penting di kelompoknya yang menjabat sebagai Koordinator Lapangan atau Komandan Operasi Wilayah OPM Kodap XXVIII/Yambi.
Prosesi pengunduran diri dari arena konflik berlangsung khidmat. Keempat mantan milisi tersebut mengikrarkan komitmen setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mencium Bendera Merah Putih di hadapan jajaran pimpinan militer, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat.
Sebagai wujud penghentian aksi kekerasan, mereka menyerahkan empat pucuk senjata api organik dan rakitan kepada Panglima Komando Operasi (Pangkoops) TNI Habema, Brigadir Jenderal TNI Riyanto.
Persenjataan yang diserahkan meliputi satu pucuk senapan serbu AR-15 kaliber 5,56 mm, satu unit pistol revolver kaliber 9 mm, satu pistol Trailside Sig Arms kaliber 22 LR milik Bejo Tabuni, dan satu pistol Combat kaliber 9 mm yang dibawa Lipar Tabuni. Seluruh barang bukti tersebut langsung diamankan sesuai prosedur militer.
Pangkoops TNI Habema Brigjen TNI Riyanto mengapresiasi keputusan keempat personel OPM yang bersedia meletakkan senjata dan kembali melakoni kehidupan warga sipil secara bermartabat.
“Keberanian bukan hanya ketika seseorang mampu mengangkat senjata, tetapi juga ketika berani meletakkannya dan memilih kehidupan yang lebih baik. Hari ini bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Hari ini adalah tentang memilih masa depan,” kata Brigjen TNI Riyanto.
Riyanto menekankan bahwa penyerahan persenjataan baru merupakan pintu awal dari fase pemulihan sosial. Ia meminta pemerintah daerah, tokoh adat, pimpinan lintas agama, hingga lingkungan keluarga dapat menyambut kembali kedatangan mereka tanpa stigma, serta memberikan pendampingan ekonomi maupun sosial secara berkelanjutan.
“Senjata yang diserahkan hari ini menjadi tanda bahwa satu jalan lama telah ditinggalkan. Setelah ini mari kembali kepada keluarga, membangun kampung, berkebun, bekerja, beribadah, dan bersama-sama menjaga masa depan anak-anak Papua. Jalan damai selalu terbuka bagi saudara-saudara kita yang ingin kembali,” tegasnya.
Melalui skema reintegrasi nasional ini, Koops TNI Habema mendorong terwujudnya pemulihan keamanan berbasis kemasyarakatan. Sinergi antara otoritas keamanan, pemerintah kabupaten, dan elemen sipil dinilai sebagai prasyarat utama agar roda pelayanan publik serta dinamika sosial-ekonomi di kawasan pegunungan Papua Tengah dapat kembali berjalan normal.
Editor: Ahmad









