Translate

Redaksi Tabuka News | 08 April 2026

Kendalikan Malaria, Distrik Miru Bahas Strategi Penanganan Bersama UNICEF dan Para Lurah

Kendalikan Malaria, Distrik Miru Bahas Strategi Penanganan Bersama UNICEF dan Para Lurah


TIMIKA, TabukaNews.com  – Di tengah perjuangan panjang melawan salah satu tingkat prevalensi malaria tertinggi di Indonesia, Distrik Mimika Baru mengambil langkah taktis dengan memindahkan medan perang langsung ke tingkat akar rumput. 

Berdasarkan data terbaru Dinas Kesehatan per 10 Februari 2026, Kabupaten Mimika mencatat angka kumulatif yang mencengangkan sebanyak 189.593 kasus positif sepanjang tahun 2025. 

Meski beban kasus tetap berat, terdapat secercah optimisme medis di mana positivity rate (PR) berhasil ditekan menjadi 14,62%, sebuah penurunan signifikan dibandingkan angka 22,9% pada tahun sebelumnya.

Merespons urgensi kesehatan publik tersebut, Kepala Distrik Mimika Baru, Merlyn Temorubun, mengumpulkan 11 lurah di wilayahnya dalam sebuah pertemuan koordinasi strategis yang didukung oleh UNICEF. 

Langkah ini menandai pergeseran kebijakan dari penanganan klinis terpusat menjadi gerakan mobilisasi komunitas yang komprehensif, mengingat distribusi kasus yang tersebar merata di seluruh kelurahan. 

Intervensi kolektif dianggap sebagai satu-satunya jalan keluar untuk memutus siklus penularan yang persisten di wilayah tersebut.

”kita sadari bawah kelurahan punya banyak beban, selain stunting ada malaria yang harus kita lakukan upaya pengendalian sehingga beberapa hal bisa kita lakukan untuk mengendalian malaria ini” ucap Merlyn Temorubun. 

Ia menekankan bahwa pembentukan tim khusus di tingkat kelurahan bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan kebutuhan mendesak untuk memastikan koordinasi hingga level RT berjalan presisi. 

Dengan adanya struktur yang jelas, intervensi di lapangan diharapkan dapat lebih terukur dan mampu menekan angka morbiditas di masing-masing wilayah secara spesifik.

Transformasi kebijakan ini menuntut kolaborasi lintas sektor yang lebih erat daripada sebelumnya. Merlyn menggarisbawahi bahwa malaria bukan lagi sekadar isu medis yang menjadi beban petugas kesehatan semata, melainkan tantangan sosial-lingkungan yang memerlukan ketahanan komunitas.

“Perlu kerjasama dari berbagai pihak terkait malaria ini, karna malaria ini masalah kita, penularan malaria harus kita putuskan dengan kegiatan-kegiatan berkelanjutan di masing-masing wilayah kelurahan ” tambah Merlyn. 

Secara teknis, UNICEF yang bertindak sebagai mitra strategis, telah merumuskan tiga pilar utama bagi tim malaria kelurahan untuk mengeksekusi pengendalian di lapangan. 

Konsultan Malaria UNICEF wilayah Timika-Nabire Yulizar Kasma, menjelaskan bahwa tim ini akan fokus pada pengelolaan lingkungan melalui pembersihan genangan air, penggunaan larvasida untuk membasmi jentik, serta dukungan logistik bagi tenaga kesehatan dan kader dalam melakukan surveilans aktif serta pengawasan kepatuhan minum obat (DMO). 

Selain itu, penyebaran media edukasi secara masif akan menjadi instrumen penting untuk mengubah perilaku masyarakat dalam mencegah gigitan nyamuk.

Langkah taktis yang diambil oleh Distrik Mimika Baru ini dipandang sebagai cetak biru krusial dalam mengejar target nasional bebas malaria. 

Keterlibatan aktif perangkat kelurahan dan kampung dianggap sebagai penentu keberhasilan apakah program ini hanya akan menjadi angka statistik atau perubahan nyata bagi kualitas hidup warga. 

“Kelurahan dan Kampung adalah ujung tombak dalam pengendalian malaria di wilayahnya masing-masing, ada dan bergeraknya tim malaria Kelurahan bentuk komitmen kita dalam mewujudkan eliminasi malaria di 2030 nanti,” pungkasnya. (Ahmad)