Kejar Target Dua Juta Pemeriksaan Malaria di Mimika, Puskesmas Timika Gencarkan Strategi 'Door to Door'

Kepala Puskesmas Timika, dr. Moses Untung saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (30/9/2026), (Foto: Ahmad).

Kejar Target Dua Juta Pemeriksaan Malaria Di Mimika, Puskesmas Timika Gencarkan Strategi 'door To Door'

MIMIKA, TabukaNews.com — Puskesmas Timika melancarkan strategi jemput bola (door to door) guna mengejar target dua juta pemeriksaan malaria di Kabupaten Mimika yang dicanangkan Pemerintah Daerah. 

Langkah agresif ini dilakukan untuk menjaring warga yang mengidap malaria tanpa gejala (asymptomatic), sekaligus memutus rantai penularan di tengah fluktuasi kasus yang kerap melonjak pada musim penghujan.

Kepala Puskesmas Timika, dr. Moses Untung, mengungkapkan bahwa pemetaan kasus malaria di wilayah kerjanya berada pada tren fluktuatif namun cenderung stabil secara angka kumulatif.

Pada 2025, total kasus malaria yang tercatat di Puskesmas Timika mencapai 9.862 kasus. Memasuki 2026, akumulasi kasus pada semester I tercatat sebanyak 4.760 kasus—relatif berimbang dibanding semester I 2025 yang berada di angka 4.472 kasus.

"Secara angka terkesan masih tinggi karena kita aktif mencari (active case finding). Dengan skema target 2 juta pemeriksaan untuk seluruh Mimika, secara matematis satu warga harus diperiksa rata-rata enam kali dalam setahun, baik ada gejala maupun tidak," ujar dr. Moses Untung saat diwawancarai, Rabu (30/9/2026).

Di tingkat fasilitas kesehatan tempatnya bertugas, Puskesmas Timika dibebani target sekitar 400 ribu hingga 500 ribu pemeriksaan per tahun, atau menyumbang nyaris 25 persen dari total sasaran kabupaten.

Pangkas Durasi Pengobatan dan Penjaringan Penderita Tanpa Gejala

Tinggi dan masifnya penjangkauan lapangan bukan tanpa alasan. Menurut Moses, sebagian warga yang berulang kali terpapar malaria kerap tidak menunjukkan gejala klinis yang khas. Penderita tanpa gejala ini tetap membawa parasit dalam darahnya sehingga berpotensi menjadi reservoir penularan apabila digigit nyamuk Anopheles.

Berdasarkan pemetaan epidemiologi Puskesmas Timika, varian malaria yang paling dominan menginfeksi warga adalah jenis Plasmodium falciparum (tropika) dan Plasmodium vivax (tertiana). 

Pada semester I 2025 misalnya, tercatat sebanyak 2.200 kasus tropika dan 1.900 kasus tertiana, sementara varian malariae, ovale, maupun infeksi campuran (mix) tercatat sangat minim.

Guna menekan angka kekambuhan (relapse)—terutama pada malaria tertiana akibat ketidakpatuhan pasien mengonsumsi obat—pemerintah kini mengaplikasikan protokol pengobatan baru. Durasi terapi yang sebelumnya memakan waktu 14 hari kini dipangkas menjadi 7 hari dengan penyesuaian dosis obat primakuin menjadi 4 tablet sehari.

"Sejak protokol terapi baru ini diterapkan per Januari 2026, kami belum menemukan pasien malaria tertiana yang mengalami kambuh dalam kurun waktu dua bulan. Ini membuktikan regimen baru jauh lebih efektif," tegasnya.

Pengendalian Vektor hingga Pengetatan Logistik Berbasis NIK

Selain meluncurkan tim tenaga kesehatan yang bergerak saban hari ke sekolah, perkantoran, dan pemukiman warga, Puskesmas Timika menempuh tiga jalur pengendalian vektor secara simultan.

Pertama, Promotif dan Edukasi: Mengimbau warga menjaga kebersihan lingkungan di tengah cuaca ekstrem.

Kedua, Surveilans Jentik Nyamuk: Tim kesehatan lingkungan menyisir genangan air secara berkala untuk memetakan dan menaburkan larvasida pada sarang nyamuk.

Ketiga, Pengendalian Fokus (Fogging): Bekerja sama dengan Malaria Center dan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika untuk melakukan pengasapan di tingkat kelurahan dan RT berdasarkan permohonan bersurat dari aparat lokal.

Mengenai ketersediaan pasokan obat-obatan, Moses memastikan stok terapi obat malaria berada dalam status aman. Sistem distribusi dan pelaporan medis kini juga telah terintegrasi ketat berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) pada KTP elektronik untuk menjamin ketepatan sasaran.

Meski intervensi medis terus dipacu, Moses menegaskan eliminasi total malaria di Mimika hanya bisa terwujud bila pembenahan sanitasi lingkungan dikerjakan bersama oleh seluruh lapisan masyarakat.

"Secara medis dan logistik kita siap, tetapi kunci utamanya tetap pada pengelolaan lingkungan. Selama got masih tersumbat sampah dan genangan air dibiarkan, potensi penularan akan selalu ada. Eliminasi malaria butuh kerja bersama," pungkasnya.

Editor: Ahmad

Iklan