Kehangatan di Balik Jaket Tebal Tembagapura: Sepenggal Rindu Abdul Latif untuk Keluarga

Salah satu pos penjagaan kawasan PT Freeport Indonesia, tampak dua orang satpam sedang mengendalikan arus lalu lintas keluar dan masuk area perusahaan, Rabu (16/9/2026). (Foto: Moh. Wahyu Welerubun).

Kehangatan Di Balik Jaket Tebal Tembagapura: Sepenggal Rindu Abdul Latif Untuk Keluarga

MIMIKA, TabukaNews.com —  Kabut tipis menggantung di atas Tembagapura. Pada ketinggian itu, udara dingin tak sekadar berhembus — ia menekan, mencapai masuk ke sela-sela pos penjagaan.

Di tengah itu semua, Abdul Latif berdiri. Pria yang berprofesi sebagai petugas keamanan PT Freeport Indonesia ini sudah terlalu akrab dengan dingin. Di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, di atas medan terjal yang menjadi tempatnya bertugas, sigap adalah satu-satunya cara ia melawan. 

Pada hari Minggu, 7 September 2026, suara Abdul mengalun dari ujung sambungan telepon. Dari Tembagapura, ia berbagi cerita tentang kesehariannya yang jauh dari hiruk pikuk kota. 

Menjaga di kawasan pertambangan sebesar ini, bagi Abdul Latif, rasanya seperti menitipkan kerinduan. Di balik langkahnya melintasi area operasional PT Freeport Indonesia di Tembagapura, ada doa yang ia bawa pulang tiap hari. Ada nama-nama di Timika yang jadi alasan ia tetap bertahan. Tugas ini bukan hanya soal seragam dan jadwal, tapi juga tentang cinta yang dikirim dari jarak jauh.

Hari-hari di dataran tinggi Tembagapura berjalan pelan. Siang dan malam lewat pola shift yang terkadang membuat tubuh bingung. 

Kabut sering datang tanpa suara, menemani dingin yang pelan-pelan. Tapi Abdul sudah terbiasa. Ia dan rekan-rekannya belajar berdamai dengan cuaca, belajar menenangkan diri di antara sunyi dan beku yang menjadi teman sehari-hari.

Untuk melawan dingin yang suka tiba-tiba menyergap, Abdul dan kawan-kawannya mendekatkan jaket tebal untuk memberikan perusahaan ke tubuh. Jaket itu sederhana, tapi punya cerita. Ia menjadi penghangat di sela jaga malam, menjadi pelukan kecil yang mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian di pos. Di tengah udara Tembagapura yang menggigit, kehangatan itu cukup membuat mereka tetap berdiri.

“Kalau tantangan fisik sih tidak ada, hanya karena dingin saja. Kita menyesuaikan diri memakai jaket tebal, kadang kita dobel jaket saja,” tutur Abdul Latif santai. 

Namun, mengalahkan dinginnya cuaca Tembagapura ternyata jauh lebih mudah dibandingkan menahan gejolak rindu yang kerap hinggap di dada. 

Baru sekitar satu bulan bertugas di wilayah pegunungan ini, Abdul harus beradaptasi dengan ritme kehidupan baru, ia harus rela memisahkan jarak dan waktu dengan anak serta istrinya yang menetap di dataran rendah Timika.

Setiap harinya, bentangan jarak menjadi jeda yang memisahkan kehangatan rumah dengan dinginnya tempat kerja. 

Meskipun dilindungi pada ketinggian, jalur komunikasi tetap terlindungi agar hubungan emosional tidak memudar. Menjadi pekerja di bidang pertambangan berarti harus siap mengambil risiko, termasuk mengikhlaskan waktu berharga tumbuh kembang anak-anak demi menjamin masa depan mereka.

"Ya mau bagaimana ya, risiko namanya juga kerja. Tetap komunikasi juga sama keluarga. Yang dirasakan ya cuma rindu saja sama anak dan keluarga di Timika," ungkapnya dengan nada haru.

Dinamika kehidupan seorang pekerja highland menempatkan akhir pekan sebagai momen paling manis dan berharga. 

Setelah sepekan penuh menembus dingin dan menjalankan masa dinas di pos area kerja, kesempatan untuk turun ke Timika bak oasis di tengah padang pasir. 

Waktu libur singkat selama dua hari dimanfaatkan Abdul Latif sedemikian rupa untuk mengurangi kerinduan yang terakumulasi.

Durasi 48 jam yang dimiliki di akhir pekan bukanlah waktu yang panjang, namun Abdul memastikan setiap detiknya bermakna. Tak ada agenda muluk-muluk yang ia rencanakan ketika tiba di rumah. 

Baginya, melihat senyum bahagia sang buah hati saat diajak bermain dan berjalan-jalan sederhana sudah lebih dari cukup untuk memulihkan seluruh energi yang terkuras.

"Ya paling ajak main anak-anak, baru jalan-jalan, itu saja sih. Ya biar bahagia toh. Kehadiran kita pas pulang itu bikin mereka senang," kata Abdul Latif.

Di balik kelemahan tuturnya, tersimpan dedikasi yang begitu kokoh. Kerinduan yang menggebu saat bertugas di ketinggian Tembagapura tidak dijadikan beban, melainkan bahan bakar motivasi untuk terus melangkah maju. 

Bayangan wajah senyum anak dan istri di rumah selalu menjadi penguat utama di saat rasa lelah dan kantuk menyapa di tengah tugas shift malam.

Saat melangkahkan kaki kembali naik menuju dataran tinggi Tembagapura untuk memulai rotasi kerja berikutnya, tak ada doa yang lebih tulus dipanjatkan Abdul Latif selain kesehatan bagi orang-orang tersayang yang ditinggalkannya di dataran rendah Timika.

"Ya mau bagaimana lagi, itu risiko karena demi masa depan anak-anak kita. Semoga keluarga di Timika sehat-sehat selalu," simpul penuh harap.

Penulis: Moh. Wahyu Welerubun 

Editor: Ahmad

Iklan