Kabut Asap di Timika Memicu Kenaikan Kasus ISPA, Dinkes Catat Lebih dari 63 Ribu Penderita

AI Generated.

Kabut Asap Di Timika Memicu Kenaikan Kasus Ispa, Dinkes Catat Lebih Dari 63 Ribu Penderita

MIMIKA, TabukaNews.com — Paparan kabut asap dan perubahan cuaca ekstrem yang menyelimuti wilayah Timika sejak pertengahan September 2026 berdampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Kabupaten Mimika mencatat puncak kenaikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seiring memburuknya kualitas udara di daerah tersebut.

Di Puskesmas Timika, tren peningkatan penderita gangguan pernapasan seperti batuk dan pilek sejatinya telah tampak sejak Agustus, sebelum akhirnya memburuk pertengahan bulan ini.

"Memang kasus pernapasan atau ISPA meningkat cukup signifikan karena kendala asap ini," ujar Kepala Puskesmas Timika, dr. Moses Untung, saat ditemui di Timika, Rabu (30/9/2026).

Pihak puskesmas saat ini tengah merekapitulasi data pasti kenaikan pasien guna membandingkan grafik riwayat penyakit periode Agustus hingga Oktober. Menurut Moses, pelaporan data ISPA dilakukan secara berkala per tiga bulan untuk memantau tren epidemiologi di wilayah kerja mereka.

Menanggapi kekhawatiran warga mengenai gejala mirip COVID-19—seperti penurunan daya penciuman, hilangnya indra pengecap, nyeri menelan, hingga badan meriang—Moses menegaskan bahwa kondisi tersebut wajar dalam fase endemi.

Sebab, virus SARS-CoV-2 saat ini bersirkulasi menyerupai flu biasa (influenza-like illness) pada masyarakat yang mayoritas telah memiliki imunitas dari vaksinasi.

"Sifatnya sudah endemi. Kebanyakan orang sudah divaksinasi, sehingga gejalanya kini menyerupai influenza pada umumnya. Penanganannya fokus pada peningkatan sistem imunitas tubuh," kata Moses.

Kenaikan Kasus Secara Historis

Ancaman ISPA di Kabupaten Mimika tergolong tinggi secara historis. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, hingga pekan ke-35 tahun 2026, jumlah temuan kasus ISPA telah menembus angka 63.856 kasus.

Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025 yang mencatatkan 61.758 kasus.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Mimika, Kamaludin, menjelaskan bahwa kondisi kemarau yang berdebu serta paparan asap meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi penderita penyakit penyerta (komorbid).

"Dari tahun ke tahun memang masih tinggi ISPA-nya. Waktu kemarin kemarau kan banyak debu. Untuk pernapasan begini, misalnya ada riwayat asma, kalau dengan asap begini biasanya keluhannya akan lebih berat, sampai bisa sesak," jelas Kamaludin.

Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

Berdasarkan data pantauan dari laman resmi AccuWeather, Indeks Kualitas Udara (AQI) di Timika tercatat berada pada angka 108. Angka ini menandakan kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat, khususnya bagi kelompok rentan atau sensitif seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan respiratorik.

Atas memburuknya kondisi udara ini, Dinkes Mimika bersama Puskesmas Timika mengimbau warga untuk memperketat Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Masyarakat disarankan membatasi aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak, mengenakan masker saat keluar ruang, menjaga asupan cairan tubuh, mencuci tangan dan kaki setelah beraktivitas, serta memastikan kecukupan waktu istirahat.

"Kalau lagi kemarau begini, banyak debu, kemudian kebetulan sekarang ada asap, masker juga digunakan untuk proteksi. Sama kalau ada keluhan, bisa ke fasilitas kesehatan untuk bisa mendapatkan pertolongan," pungkas Kamaludin.

Editor: Ahmad

Iklan