emas Dan Tiket Pesawat Kerek Inflasi Tahunan Timika Ke 2,18 Persen Pada Mei 2026
MIMIKA, TabukaNews.com — Lonjakan harga emas perhiasan dan kenaikan tarif angkutan udara mendorong inflasi tahunan (y-on-y) di Kota Timika, Kabupaten Mimika, menyentuh angka 2,18 persen pada Mei 2026.
Kendati demikian, laju kenaikan harga di wilayah pusat industri tambang Papua Tengah ini terpantau melambat dibandingkan periode yang sama dalam dua tahun terakhir.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 merangkak naik ke level 114,86, dibandingkan dengan level 112,41 pada Mei tahun lalu.
Secara bulanan (m-to-m), laju inflasi Timika tercatat sebesar 0,69 persen, sementara tingkat inflasi tahun kalender (y-to-d) berada di angka 1,85 persen.
"Perkembangan harga berbagai komoditas pada Mei 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan," tulis Kepala BPS Kabupaten Mimika, Ouceu Satyadipura, saat dikonfirmasi pada Senin (22/6/2026).
Berdasarkan data BPS, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi motor utama inflasi tahunan dengan lonjakan indeks mencapai 21,67 persen.
Sektor ini memberikan andil inflasi terbesar hingga 1,54 persen, yang utamanya dipicu oleh pergerakan harga komoditas emas perhiasan di pasar domestik.
Sektor transportasi membuntuti sebagai penyumbang inflasi terbesar kedua dengan kenaikan 5,55 persen dan andil 0,49 persen. Kenaikan di sektor ini dipicu oleh penyesuaian tarif angkutan udara serta peningkatan harga mobil.
Sementara itu, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menguat 2,10 persen dengan andil 0,30 persen akibat kenaikan harga bahan bakar rumah tangga.
*Deflasi Pangan Menahan Laju Inflasi*
Di tengah tekanan harga sektor jasa dan barang tersier, sektor pangan justru menjadi peredam (jangkar) yang menahan laju inflasi lebih dalam.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat deflasi tahunan sebesar 0,24 persen, menyumbang andil penurunan sebesar 0,11 persen.
Penurunan harga pada komoditas pokok seperti daging babi, cabai rawit, bawang putih, daging ayam ras, dan tomat menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas daya beli masyarakat terhadap sektor bahan makanan teras.
Namun secara bulanan, struktur inflasi m-to-m sebesar 0,69 persen tetap sensitif terhadap pasokan jalur laut dan udara. Kenaikan harga cumi-cumi dan ikan mumar, berbarengan dengan fluktuasi harga tiket pesawat, menjadi pemicu utama kenaikan harga jangka pendek.
Kondisi ini terjadi meskipun harga cabai rawit, bawang merah, dan tomat mengalami deflasi bulanan.
*Tren Melambat dalam Dua Tahun terakhir*
Jika ditarik secara historis, performa inflasi Timika pada Mei 2026 mengindikasikan adanya normalisasi harga pascapandemi atau guncangan rantai pasok global.
Angka 2,18 persen pada Mei tahun ini menunjukkan perlambatan signifikan dibandingkan dengan realisasi Mei 2025 yang bertengger di level 2,88 persen, serta Mei 2024 yang sempat menyentuh angka tinggi 4,31 persen.
Perlambatan ini memberikan sinyal positif bagi stabilitas makroekonomi regional di wilayah pesisir Papua Tengah. (Ahmad).









