​Dua Kasus Kaki Gajah Ditemukan di Timika, Dinkes Mimika Kejar Target Bebas Filariasis 2030

​dua Kasus Kaki Gajah Ditemukan Di Timika, Dinkes Mimika Kejar Target Bebas Filariasis 2030

​MIMIKA, TabukaNews.com  — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika mendeteksi dua kasus kronis penyakit filariasis atau kaki gajah di wilayah Timika, Papua Tengah. 

Menanggapi temuan ini, otoritas kesehatan setempat bergerak cepat melakukan tatalaksana penanganan klinis, mulai dari pemeriksaan, pengobatan, penyiapan pencegahan massal, hingga pemantauan lanjutan guna memutus rantai penularan. 

Langkah ini krusial mengingat penyakit penularan berbasis vektor nyamuk ini berdampak langsung pada produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.

Langkah mitigasi tersebut diawali dengan menggelar workshop tatalaksana kasus kronis filariasis di Ballroom Hotel Grand Tembaga, Timika, Rabu, 1 Juli 2026. 

Agenda yang diikuti oleh jajaran dokter, penanggung jawab (Pj) filariasis, serta Pj promosi kesehatan (Promkes) dari puskesmas dan rumah sakit ini dibuka oleh Sekretaris Dinkes Mimika, Dr. Sisma HL.

Dr. Sisma menegaskan bahwa penanganan dua kasus baru ini tidak boleh sekadar berfokus pada pengobatan medis, melainkan harus diperkuat dari sisi surveilans dan edukasi publik. 

Minimnya kesadaran warga untuk memeriksakan diri secara dini masih menjadi hambatan utama di lapangan.

“Banyak hal yang harus kita persiapkan sama halnya dengan kita lakukan surveilans ilmiah, di mana masa inkubasi filariasis setelah gigitan nyamuk berkisar 6–12 bulan, kemudian nyamuk dapat hidup dan menularkan dalam 2–4 minggu. Hal ini yang harus kita waspadai,” ujarnya.

Sisma membeberkan empat strategi utama dalam tatalaksana kali ini, yakni penguatan Promkes untuk mengikis stigma masyarakat, surveilans ilmiah untuk melacak siklus hidup nyamuk, kolaborasi lintas sektor yang melibatkan tokoh masyarakat, serta optimalisasi pemeriksaan mikrofil yang akurat.

*Dampak Ekonomi-Kesehatan dan Upaya Eliminasi*

​Secara medis, filariasis dipicu oleh infeksi cacing filaria di kelenjar getah bening yang ditularkan lewat gigitan nyamuk. 

Jika dibiarkan tanpa pengobatan, penyakit ini mengakibatkan cacat menetap berupa pembesaran ekstrem pada kaki, tangan, maupun alat kelamin, yang secara otomatis melumpuhkan produktivitas ekonomi penderitanya.

​Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinkes Mimika, Kamaludin, mengonfirmasi temuan 2 kasus kronis tersebut sepanjang tahun 2026. 

Sebagai bentuk intervensi makro, Dinkes Mimika terus melanjutkan program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) yang kini telah memasuki tahun kedelapan secara berturut-turut.

“Tujuan kegiatan ini untuk peningkatan keterampilan diagnosis, bagi petugas puskesmas dan rumah sakit, kemudian melatih tenaga kesehatan dalam tatalaksana pasien, memperkuat edukasi masyarakat agar mau diperiksa dan berobat dan terpenting meningkatkan cakupan laporan ke Dinkes Mimika,” ucap Kamaludin.

Melalui pelatihan yang menghadirkan narasumber dari Kementerian Kesehatan RI ini, Dinkes Mimika menargetkan seluruh pasien kronis terdata dan mendapatkan kunjungan rumah (home care) sesuai standar. 

Langkah ini menjadi bagian dari peta jalan (roadmap) investasi kesehatan jangka panjang Mimika demi mencapai status ekonomi daerah yang bersih dari beban penyakit menular. (Ahmad)

Iklan