Derit Ontel Tua Di Mimika: Mengayuh Memori, Merawat Bangsa
MIMIKA, TabukaNews.com — Sang surya bagai memanggul bara di atas bentangan aspal jalanan di depan Graha Eme Neme Yauware, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Selasa pagi, 11 Agustus 2026. Aspal membara, tetapi riuh lautan manusia tak jua luntur.
Di tengah denyut peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, waktu tiba-tiba terjadi perlahan ketika sekelompok pria berbalut busana tempo doeloe melintas, membelah garis zaman.
Mereka bukan sekadar rombongan pesolek sejarah. Di atas rangka-rangka besi tua yang menderingkan derit sunyi—sepeda ontel dari era kolonial seperti Batavus buatan Belanda tahun 1904, Raleigh, Fongers, hingga Relilch—Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Papua Tengah sedang menghidupkan kembali lorong memori bangsa di Tanah Amungsa.
Mengarungi Waktu di Atas Sadel Tua
Pagi itu, pendar cahaya berkilaui kerangka-kerangka logam yang menua anggun, berdiri sejajar dengan rumbai-rumbai kain adat Papua dan seragam sekolah anak-anak. Di setang sepeda, bendera Merah Putih dan panji oranye KOSTI berkibar perlahan, menari disapa angin pesisir.
Seorang pria tampak mengenakan setelan jas putih lengkap dengan peci dan kacamata hitam—mewakili gaya klimis pejabat zaman pergerakan. Di dekatnya, rekan sesama anggota KOSTI mengenakan lurik Jawa lengkap dengan blangkon, serta busana pejuang kemerdekaan bertopi veteran.
Aksesori kuno yang anggun anggun: tas kulit posus kusam tempat para kurir berkirim kabar tempo doeloe, tempat minum dari kaleng tua, hingga sirine engkol manual yang berdering nyaring saat diputar.
"Hari ini konsepnya kami memakai pakaian perwakilan. Anak-anak sekarang dapat melihatnya hanya di foto. Sekarang kami buat replikanya, ada Bung Tomo, gaya kraton, hingga pejuang rakyat," kata Ketua KOSTI Papua Tengah, Rumadi, saat ditemui di parade sela-sela.
Bagi KOSTI, keterlibatan mereka dalam karnaval yang menyedot ribuan peserta lintas generasi ini adalah ikhtiar merawat ingatan. Sejarah tidak bisa sekadar menjadi artefak di dalam buku.
"Setelah kami jalan tadi, anak-anak sangat euforia dan langsung menyambut. Selama ini mereka hanya lihat di gambar. Karena ini anak sekolah banyak, kami mengingatkan agar melegakan mencintai pahlawannya yang telah membela tanah air tanpa mengorbankan nyawa dan materi," ujar Rumadi.
Dari Perambanan hingga Pasifik: Komunitas yang Terus Mengayuh
Sepeda tua bukan sekadar pajangan berdebu di sudut rumah bagi 25 anggota aktif KOSTI di Mimika. Besi-besi tua itu adalah kendaraan silaturahmi yang menjejakkan prestasi hingga ke kancah internasional.
Rumadi menceritakan, KOSTI Papua Tengah tak cuma aktif membelah rute lokal seperti acara Car Free Day atau gowes mingguan dari SP2 menuju Bandara Lama Timika. Pada Mei lalu, enam perwakilan KOSTI Papua Tengah terbang mengarungi lautan menuju Jawa untuk mengikuti ajang internasional International Veteran Cycle Association (IVCA) di pelataran Candi Prambanan, Yogyakarta.
“Saat itu kami dari KOSTI Papua Tengah Kabupaten Mimika mewakili enam orang dan mendapatkan Juara 1 Favorit. Tropinya sudah kami serahkan ke Ketua KORMI Kabupaten dan Provinsi Papua Tengah,” ungkap Rumadi bangga.
Langkah-roda tua ini belum akan berhenti. Di bawah naungan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI), mereka tengah bersiap menuju tingkat Asia Pasifik di Sidoarjo, Jawa Timur, pada Oktober mendatang.
“Slogan kami jelas: Satu Sepeda, Sejuta Saudara. Bersama KORMI, kita sehat, bugar, gembira, dan luar biasa,” selorohnya diiringi tawa anggota komunitas lainnya.
Sepeda ratusan Juta dan Tumit yang Terjepit
Di balik nilai sejarahnya yang legendaris, sepeda-sepeda ontel yang dirawat anggota KOSTI menyimpan keunikan dan nilai material yang menakjubkan. Di lokasi karnaval, Rumadi menunjukkan salah satu koleksi paling langka.
"Kalau milik saya ini Batavus produksi 1904 buatan Belanda, masuk Indonesia sekitar tahun 1950-an. Tapi ada yang paling tua dan paling mahal, merek Relilch. Harganya bisa sampai Rp250 juta," kata Rumadi sambil menunjuk besi tua yang tampak kokoh meski usianya sudah lebih dari satu abad.
Namun, melampaui angka kalkulasi dan deretan tahun, ada kekuatan emosi yang mengikat para penunggangnya. Bagi Rumadi, setiap kayuhan pedal melontarkan memori manis masa kecilnya yang tak pernah lapuk oleh zaman.
"Kenangan tersendiri itu ada dari zaman SD, SMP, sampai SMA kelas 2, saya sekolah pakai sepeda begini. Dulu sepeda palang, saya dibonceng kakek tapi duduk di depan. Kaki masuk ke celah palang, sampai tumit hampir lepas terjepit ruji sepeda," kenang Rumadi sambil memegangi tumit kakinya. "Kenangan seperti itu tidak pernah saya lupa."
Menautkan Kebangsaan di Ujung Timur
Di bawah kanvas langit Timika yang ditudungi awan tipis, sebuah visual harmonis tercipta. Anak-anak kecil berbusana adat Papua berjalan beriringan dengan para pengayuh sepeda tua berbusana veteran. Senyum hangat mengalir tanpa sekat suku maupun generasi. Sepeda tua menjadi jembatan yang merenggangkan nostalgia masa lalu dengan mimpi anak-anak Papua di masa depan.
Bagi Rumadi dan komunitasnya, setiap putaran Roda Ontel di Tanah Mimika membawa pesan persahabatan yang mengakar kuat di bumi Cenderawasih.
"Pesan kami sebagai KOSTI, mari kita rawat NKRI. Sejarah dulu diukir para pejuang kita yang banyak menggunakan sepeda-sepeda tua ini dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia," pungkas Rumadi menutup perbincangan, sebelum kembali memegang setang sepedanya dan berlalu di antara mengguncang sorak warga Mimika.
(Editor: Ahmad)









