Daya Rusak El Nino dan Kabut Asap di Mimika: Ancaman Gagal Panen Petani Hidroponik

Penanggung Jawab Harif Hidroponik, Agil, saat ditemui sedang memeriksa tanaman hidroponik di areaa perkebunan, Jumat sore, (16/10/2026). (Foto: Ahmad).

Daya Rusak El Nino Dan Kabut Asap Di Mimika: Ancaman Gagal Panen Petani Hidroponik

​MIMIKA, TabukaNews.com — Fenomena iklim El Nino yang memicu kemarau panjang serta kepungan kabut asap kian mendera sektor pertanian di Kabupaten Mimika, Papua Tengah. 

Para petani hidroponik kini harus berjibaku menghadapi krisis air bersih, fluktuasi derajat keasaman (pH) larutan nutrisi, hingga minimnya intensitas cahaya matahari yang membuat pertumbuhan tanaman tersendat dan terancam gagal panen.

​Dampak buruk cuaca ekstrem ini dirasakan langsung oleh pengelola Harif Hidroponik yang berlokasi di Jalur 3 Kiri, SP 4, Kelurahan Wonosari Jaya, Distrik Wania. 

Di atas lahan dengan sekitar 30 meja tanam, usaha hortikultura ini berjuang menjaga produktivitas sayuran di tengah keterbatasan pasokan air sumur bor yang menjadi penopang utama sistem.

​Penanggung Jawab Harif Hidroponik, Agil, mengungkapkan bahwa penurunan debit air telah berlangsung selama dua bulan terakhir. 

Sumber air sumur bor yang biasanya mengalir deras kini menyusut, sehingga proses pengisian bak penampungan nutrisi memakan waktu jauh lebih lama dari biasanya.

​"Airnya yang kita biasa ini lancar... sekarang surut, keluar saya sedikit. Jadi, kalau dalam 1 hari contoh kita isi air itu, mungkin ya untuk satu kebun itu, ya setengah jamlah, setengah jam itu kalau maksudnya kan beberapa ini penampungan untuk pupuk itu, jadi tidak langsung satu kali. Mungkin bisa lebih lama, mungkin nambah-nambah 10 menitan mungkin maksudnya kayak-kayak begitu," ujar Agil saat ditemui di lokasi perkebunan, Jumat (16/10/2026).

Untuk menyiasati lambatnya aliran air—terutama menuju meja tanam di bagian belakang—pihak pengelola terpaksa memasang mesin pompa air tambahan (sanyo) agar pengisian tetap berjalan efektif.

​Fluktuasi Nutrisi dan Ancaman Jamur Akar

​Selain menyusutnya volume air, kualitas air sumur bor yang kini kerap keruh sejak terjadinya El Nino turut mengubah konsentrasi larutan Parts Per Million (PPM). Hal ini menuntut pengelola untuk melipatgandakan intensitas pemantauan harian.

​"Kalau pas apa ya, pupuk dicampurkan air yang sebelum-sebelumnya ini kita kayak gampanglah untuk ukur dia punya apa ya? PPM lah apa segala macam gitu. Kalau sekarang ini gampang berubah-rubah, jadi kita harus lebih sering pantau lagi, tidak kayak biasanya-biasanya. Palingkan kayak 1 hari ini, eh maksudnya kalau biasa-biasa 1 hari kita ngecek pagi atau sore gitu. Kalau sekarang ini pagi, siang, sore, maksudnya kayak tambah 1 kali jadwal ngecek lagi," jelas Agil.

​Persoalan kian pelik tatkala pekatnya kabut asap menghalangi paparan sinar matahari. Proses fotosintesis tanaman terganggu, mengakibatkan pertumbuhan pakcoy dan selada melambat drastis serta kehilangan bobot idealnya.

"Kurangnya matahari, pertumbuhan tanaman jadi lambat, terus juga ya tidak berbobot," kata Agil. Ia mencontohkan, satu pohon sayur yang normalnya berbobot sekitar satu ons dengan lima helai daun, kini tumbuh kerdil. Masa panen yang lazimnya dapat dicapai dalam 20 hingga 30 hari pun terpaksa mundur hingga lebih dari sebulan.

​"Tambah asap lagi, tambah, aduh. Tambah bikin tanaman itu kayak cungkring-cungkring. Cungkring-cungkring, kayak gimana tuh, kecil-kecil gitu, ya? Kurus-kuruslah, kurus-kurus," tambahnya.

​Tidak hanya itu, perubahan suhu dan kelembapan di musim kemarau turut memicu kerentanan terhadap penyakit. 

Jika jamur daun di musim hujan relatif mudah dikendalikan dengan fungisida, jamur yang menyerang bagian akar dan batang pada musim panas jauh lebih berbahaya dan mematikan.

​"Kalau di musim panas itu ke akar. Akar atau batang. Dan itu lebih parah daripada jamur yang di daun. Kalau jamur di daun kita bisa atasi, mungkin dengan semprot sesekali pakai obat jamur daun, tapi kalau di akar atau apalagi batang, batang itu yang lebih parah lagi, paling susah diatasi," ungkap Agil menegaskan potensi kegagalan panen yang mengintai.

​Distribusi ke Pedalaman Mulai Terhambat

​Kendala produksi ini berdampak langsung pada ketersediaan stok di tingkat konsumen. Di Harif Hidroponik, pakcoy dipatok seharga Rp25.000 per kilogram, sementara selada dihargai Rp50.000 per kilogram. Penurunan laju panen membuat sejumlah meja tanam mulai mengalami kekosongan stok.

Padahal, hasil panen dari perkebunan ini tidak hanya memasok kebutuhan lokal Mimika—seperti area penimbangan di Pengansari dan pasar tradisional—tetapi juga menjangkau wilayah pesisir hingga daerah pedalaman dan pegunungan Papua, termasuk Kabupaten Asmat.

​Di tengah situasi yang menantang ini, pengelola berkomitmen untuk mencurahkan tenaga dan perhatian ekstra demi memastikan standar pemeliharaan tanaman tetap terjaga di tengah cuaca ekstrem.

Editor: Ahmad

Iklan