Dari Kampung Ke Pasar Yang Lebih Luas, Ijb Kaji Model Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Koperasi
MIMIKA, TabukaNews.com — Institut Jambatan Bulan (IJB) menggelar agenda pengumpulan data kajian model pemberdayaan masyarakat berbasis koperasi untuk wilayah terpencil Kabupaten Mimika di Ruang Aula Yulianus, Kampus IJB, Timika, Papua Tengah, Senin (31/8/2026).
Strategi Riset yang diamanatkan oleh Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) ini difokuskan pada tiga kawasan pedalaman, yakni Distrik Mimika Barat, Distrik Agimuga, dan Distrik Jila.
Proses pengumpulan data lapangan telah dimulai di Distrik Mimika Barat pada 19–22 Agustus 2026. Dalam sesi lanjutan kali ini, tim peneliti IJB menghadirkan perwakilan langsung warga dari Distrik Agimuga dan Jila untuk menggali kebutuhan, potret kondisi sosial-ekonomi, serta tantangan pengembangan lembaga ekonomi warga di wilayah pedalaman dan pesisir Mimika.
Ketua Tim Kajian IJB, Dr. Abu Bakar, menggarisbawahi pentingnya menetapkan kelembagaan koperasi yang adaptif dan bernilai guna nyata bagi masyarakat lokal.
“Kami dari Institut Jambatan Bulan dipercayakan oleh Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah untuk melakukan kajian model pemberdayaan masyarakat berbasis koperasi di wilayah terpencil Kabupaten Mimika,” ujarnya.
Menurut Abu Bakar, pendirian badan usaha di pedalaman tidak hanya sekedar memenuhi kuantitas atau formalitas administratif.
“Kita ingin melihat bagaimana seharusnya koperasi itu dibentuk dan dikelola sehingga benar-benar menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat. Jangan sampai kita hanya membentuk koperasi, tetapi manfaatnya belum maksimal dirasakan oleh masyarakat,” jelasnya.
Langkah penelitian ini diselaraskan dengan paradigma pembangunan Pemkab Mimika yang menitikberatkan pemerataan ekonomi dari pinggiran.
“Salah satu visi dan misi Pemerintah Kabupaten Mimika adalah melaksanakan pembangunan dari kampung ke kota. Dalam rangka pembangunan tersebut, pemberdayaan masyarakat menjadi penting agar masyarakat mampu meningkatkan kesejahteraannya secara mandiri dan tidak terus-menerus bergantung pada bantuan,” tutur Abu Bakar.
Ia menambahkan, ketergantungan pada program jaring pengaman sosial harus perlahan digantikan oleh kemandirian ekonomi warga melalui penguatan usaha produktif.
“Bantuan-bantuan masih merupakan salah satu instrumen yang harus dilakukan.Tetapi jika masyarakat bisa lebih mandiri, mampu mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraannya sendiri, tentu itu akan jauh lebih baik,” tegasnya.
Pemilihan koperasi sebagai fondasi utama pemberdayaan dinilai tepat karena selaras dengan tatanan sosial masyarakat adat di Mimika.
“Kenapa kemudian koperasi dipilih sebagai instrumen pemberdayaan? Karena sesungguhnya nilai-nilai atau prinsip-prinsip koperasi itu sejalan dengan nilai-nilai adat istiadat, gotong royong, toleransi, dan kebersamaan yang ada di masyarakat,” ungkapnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa potensi keselarasan budaya tersebut hanya akan berdampak jika diimbangi dengan tata kelola manajerial yang profesional.
“Koperasi bisa menjadi instrumen pemberdayaan yang kuat karena sesuai dengan karakteristik masyarakat setempat.Tetapi koperasi itu harus dikelola dengan baik sehingga masyarakat sebagai anggota benar-benar merasakan manfaatnya,” tambahnya.
Seluruh masukan, data primer, serta aspirasi dari warga Agimuga dan Jila dipastikan akan menjadi dasar penyusunan dokumen rekomendasi kebijakan yang obyektif untuk diserahkan kepada Pemkab Mimika.
“Informasi yang Bapak dan Ibu berikan kepada kami sudah kami catat dengan baik, akan kami olah dan menjadi suatu dokumen kajian yang nantinya Bapak dan Ibu sendiri dapat mengaksesnya. Semua informasi yang Bapak dan Ibu berikan akan betul-betul kami gunakan. Tidak akan kami kurang-kurangi, tidak akan kami tambah-tambahkan, dan tidak akan kami lebih-lebihkan. Apa yang Bapak dan Ibu sampaikan, itulah yang akan kami gunakan dalam laporan dan usulan kepada pemerintah,” tegas Abu Bakar.
Menutup rangkaian kegiatan, pihak akademisi menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran perwakilan warga yang menempuh perjalanan jauh dari kawasan pesisir dan pegunungan menuju pusat kota Timika.
"Saya begitu terharu, Bapak dan Ibu, atas kesediaan untuk datang jauh-jauh dari Agimuga dan Jila memenuhi undangan kami dalam kegiatan pengumpulan data ini. Tidak ada yang dapat kami balas selain menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya. Kami yakin dan percaya, Tuhan akan membalas segala upaya, kebaikan, dan ketulusan Bapak dan Ibu yang telah hadir di tempat ini serta memberikan informasi kepada kami," tuturnya.
Melalui kerja sama penelitian antara IJB dan BRIDA Mimika ini, pemerintah daerah diharapkan memiliki pedoman akademis dan rekomendasi taktis dalam memformulasikan model pemberdayaan berbasis koperasi yang presisi, berkelanjutan, serta mampu membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk dari kampung.
Editor: Ahmad









