Asap Tipis Dan Baju Adat Di Hut Ke-30 Mimika
MIMIKA, TabukaNews.com — Upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-30 Kabupaten Mimika di lapangan Kantor Pusat Pemerintahan (Puspem) Kabupaten Mimika, Senin, 12 Oktober 2026, berlangsung dalam atmosfer yang unik.
Pagi itu, tatanan seremoni tak sepenuhnya mulus dihiasi langit biru; kabut asap tipis turut menjadi "tamu tak diundang" yang menyelimuti area Puspem.
Meski udara tak sepenuhnya bersih, kekhidmatan tak luntur. Bupati Mimika Johannes Rettob tampil mencuri perhatian selaku Inspektur Upacara dengan mengenakan pakaian adat.
Penampilannya kontras sekaligus melengkapi para tamu undangan yang mendominasi busana batik, sementara peserta upacara lainnya memamerkan rupa-rupa pakaian adat nusantara hingga seragam dinas resmi.
Di balik barisan formal tersebut, Evert Lukas Hindom memimpin jalannya ketertiban baris-berbaris sebagai Komandan Upacara.
Di hadapan jajaran pejabat dan warga yang hadir, Bupati Johannes memperingatkan bahwa usia tiga dekade bukanlah masa yang singkat bagi sebuah daerah. Tiga puluh tahun perjalanan Mimika diwarnai dinamika, tantangan, perjuangan, hingga pengorbanan yang tak sedikit.
“Apa yang kita nikmati hari ini merupakan hasil kerja keras dan perjuangan banyak pihak. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga, melanjutkan, dan meningkatkan hasil pembangunan demi masa depan Mimika yang lebih baik,” kata Bupati JR dalam amanatnya.
Momentum ini sekaligus dimanfaatkan untuk melayangkan apresiasi kepada para peletak batu pertama pembangunan Mimika—mulai dari para pendiri, pemimpin terdahulu, hingga tokoh adat dan agama.
Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Mimika mengusung tema “Mimika Rumah Kita, Bangkit dan Bergerak dari Kampung ke Kota Menuju Gerbang Emas”. Bupati John menegaskan agar frasa bernada megah tersebut tidak sekadar menjadi ornamen retorika saban tahun.
“Tema ini merupakan pesan semangat sekaligus arah bagi kita semua untuk membangun Kabupaten Mimika secara bersama-sama, dengan mengedepankan persatuan, pemerataan, keberlanjutan, dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Secara filosofis, usia 30 tahun diposisikan sebagai jembatan yang menghubungkan rekam jejak masa lalu, desakan kebutuhan masa kini, serta cita-cita masa depan.
Namun, di balik panggung seremonial, tantangan riil daerah ini masih membayang—dari soal pemerataan pembangunan, kualitas pelayanan publik, hingga penguatan ekonomi warga.
"Kita harus menyadari bahwa pembangunan Kabupaten Mimika masih menghadapi berbagai tantangan, pemerataan pembangunan, peningkatan kualitas pelayanan publik, penguatan ekonomi masyarakat, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemanfaatan potensi daerah secara berkelanjutan merupakan pekerjaan yang membutuhkan komitmen dan kerja sama semua pihak," tutur Bupati JR.
Ia menggarisbawahi agar instansi pemerintah tak terjebak dalam formalitas capaian fisik belaka. Keberhasilan birokrasi, kata dia, diukur dari sejauh mana masyarakat benar-benar merasakan dampaknya.
"Saya mengajak seluruh perangkat daerah dan para pemangku kepentingan agar menjadikan momentum 30 tahun ini untuk melakukan evaluasi apa yang telah kita capai, memperbaiki hal-hal yang masih menjadi kekurangan, serta memperkuat program-program pembangunan yang benar-benar menyentuh masyarakat," pungkasnya.
Usai barisan upacara dibubarkan dan rentetan pidato usai, ketegangan protokol perlahan mencair. Acara dilanjutkan dengan ibadah sabda singkat, prosesi pemotongan kue ulang tahun serta tumpeng, hingga panggung hiburan yang menutup syukuran tiga dekade Mimika.
Penulis: Desy
Editor: Ahmad









