20 Remaja Papua Dari Akademi Sepak Bola Binaan Ptfi Siap Tembus Pasar Profesional
MIMIKA, TabukaNews.com — PT Freeport Indonesia (PTFI) kembali merealisasikan investasi sosialnya di bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) Papua. Sebanyak 20 remaja laki-laki angkatan kedua Papua Football Academy (PFA) kelahiran tahun 2010 resmi dinyatakan lulus setelah menjalani program penempaan disiplin dan kurikulum sepak bola modern selama tiga tahun.
Seremoni kelulusan yang berlangsung di Ballroom Hotel Horison Diana, Timika, Sabtu, 4 Juli 2026, menjadi penanda kesiapan para talenta muda ini untuk masuk ke pasar sepak bola profesional.
Dalam acara tersebut, Founder PT Garuda Gemah Nusantara, Ratu Tisha Destria, menekankan pentingnya konsistensi jangka panjang dan perhatian terhadap detail terkecil bagi para lulusan jika ingin bersaing di industri sepak bola modern.
"Football is a game of centimeters. Yang membedakan pemain yang baik dan pemain yang luar biasa hanyalah satu sentimeter itu,” kata Ratu Tisha.
Tisha menantang para lulusan untuk terus mempertahankan kedisiplinan yang telah dibentuk di akademi, mulai dari pemenuhan nutrisi, kebugaran, hingga manajemen waktu istirahat untuk belasan tahun ke depan.
“Pertanyaannya, bisakah kalian lakukan itu untuk 12 tahun ke depan? Saat Piala Dunia 2038, saya ingin melihat Indonesia dan kalian semua bisa berlaga di situ," ujarnya.
*Investasi Sosial Jangka Panjang Freeport*
PFA yang didirikan pada 31 Agustus 2022 atas arahan langsung Presiden ke-7 RI Joko Widodo, kini menjadi proyek percontohan kawah candradimuka sepak bola di Indonesia Timur dengan dukungan penuh dari Freeport.
Director & Executive Vice President Sustainable Development PTFI, Claus Wamafma, menjelaskan bahwa meski korporasi telah mendanai berbagai program sosial, kesehatan, dan olahraga selama tiga dekade, pengelolaan akademi sepak bola formal seperti PFA merupakan sebuah terobosan baru bagi perusahaan.
Claus menekankan pentingnya etos kerja, fighting spirit, serta kepatuhan penuh terhadap regulasi industri olahraga demi menjaga sportivitas dan profesionalisme.
"Apa yang mencolok dari tim Afrika? Semangat juang mereka luar biasa. Mereka bermain untuk negara mereka dan tampil habis-habisan. Kita tidak boleh menyerah," kata Claus, mengambil contoh daya juang tim nasional Cabo Verde yang sempat ia tonton saat pertandingan melawan Argentina pada babak 32 besar Piala Dunia FIFA pada Sabtu pagi.
Claus juga menambahkan pentingnya kepatuhan terhadap aturan main dan keputusan wasit di lapangan, seraya berguyon, "Ketika memilih sebagai pemain bola, kita kawin dengan aturan main bola. Keputusan wasit itu mutlak. Yang sempurna itu main bola di surga, karena Tuhan yang jadi wasitnya."
Ia turut menjamin independensi akademi bahwa operasional dan seleksi pemain PFA berjalan tanpa ada intervensi dari manajemen korporasi. "Tidak pernah manajemen Freeport ikut menentukan siapa yang dipilih, itu hak mutlak tim pelatih."
*Membuka Akses Global dan Menghapus Kesenangan Daerah*
Guna membentuk mentalitas global, para siswa PFA tidak hanya ditempa secara fisik dan taktik, melainkan juga dibekali kemampuan bahasa Inggris serta penguatan mentalitas bertanding.
Melalui program PFA Elite Camp, para siswa angkatan kedua ini tercatat telah merasakan atmosfer kompetisi di luar negeri seperti Jepang, Austria, dan Australia.
Menurut Claus, eksposur internasional ini krusial untuk membangun kepercayaan diri anak-anak Papua di panggung global.
"Saya ingin mereka melihat bagaimana persaingan di luar sana dan memiliki rasa percaya diri yang baik. Saat menghadapi pemain dari Eropa atau negara maju, saya ingin mereka menatap mata lawan mereka. Kita sama. Panggungnya sama. Saya tidak ingin melihat anak-anak menunduk lagi di lapangan," tegas Claus.
Langkah ini diapresiasi oleh Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Staf Ahli Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Dr. Ir. Yohana Paliling. Ia menilai PFA bukan sekadar sekolah bola, melainkan investasi strategis bagi masa depan SDM Papua.
"Di lembaga ini, anak-anak kita tidak hanya dibentuk menjadi pemain sepak bola yang terampil, tetapi juga dididik untuk memiliki disiplin, tanggung jawab, dan mental yang kuat," kata Yohana.
Namun, ia mengingatkan bahwa kelulusan ini merupakan awal dari kompetisi pasar yang sesungguhnya di tingkat nasional dan internasional.
*Rekam Jejak dan Nilai Komersial Lulusan*
Hingga Juli 2026, PFA tercatat telah meluluskan total 44 siswa (24 siswa pada Batch 1 dan 20 siswa pada Batch 2). Dari sisi prestasi komersial dan performa, angkatan kedua ini telah mengantongi berbagai gelar sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Diantaranya adalah Juara Garuda International Cup U15 2025, Juara Liga TopSkor U16 Regional Surabaya, serta Runner-Up Piala Soeratin U15 Tingkat Nasional 2025.
Nilai kompetitif lulusan PFA juga terbukti di pasar transfer pemain muda. Tiga siswa—Dolvi Theofilus Salossa, Yance Glen Imbiri, dan Stenly Meyanu—telah resmi dikontrak oleh tim Elite Pro Academy (EPA) Garuda United U18 pada akhir musim kompetisi 2025/2026.
Selain itu, memasuki Juni 2026, enam siswa mendapatkan panggilan seleksi Timnas U17 untuk proyeksi Piala Asia, di mana empat di antaranya Dolvi, Yance, Stenly, dan Melki Yatipai—masih bertahan dalam proses seleksi ketat di Solo. (Ahmad)









